Bacaan : Kisah Para Rasul 10:24-35
Dengan telepon genggam, dewasa ini orang dapat lebih leluasa
berkomunikasi ketimbang sepuluh tahun lalu. Harga telepon genggam pun
semakin terjangkau. Namun anehnya, penelitian menunjukkan bahwa
pemakai telepon genggam rata-rata hanya menghubungi empat orang
secara rutin dan intensif. Padahal daftar kontaknya berisi ratusan
nomor telepon. Itu berarti, walaupun ada begitu banyak kenalan, hanya
segelintir orang yang dijadikan sahabat.
Banyak orang cenderung memilih-milih teman dalam bergaul. Akibatnya,
kita kerap membuat tembok pembatas, seperti suku, budaya, status
sosial, maupun agama, sehingga lingkaran pergaulan kita malah menjadi
sempit. Para murid Yesus pun semula bersikap demikian. Petrus,
sebagai orang Yahudi dilarang keras berkunjung ke rumah Kornelius,
orang Italia. Mereka dianggap orang kafir. Namun, pandangan Petrus
segera berubah setelah Kristus menyadarkannya bahwa Tuhan tidak
membeda-bedakan orang (ayat 34). Jadi, ia pun pergi mengunjungi
Kornelius, sebab Tuhan ingin memakainya menjadi saluran berkat bagi
"orang kafir" itu. Keberanian Petrus menerobos tradisi dan membangun
relasi membuahkan berkat besar. Hasilnya, seisi rumah Kornelius pun
diselamatkan.
Allah mencintai orang-orang yang hidup di sekitar kita dan ingin
menunjukkan cinta-Nya kepada mereka, melalui kita. Hal ini hanya
dapat terjadi apabila kita bersedia membuka diri untuk bersahabat
dengan siapa saja. Belajar mencintai yang Tuhan cintai. Coba periksa
lagi daftar kontak Anda. Adakah orang yang perlu dijadikan sahabat?
-JTI
SEBAGAI SAHABAT ALLAH
KITA HARUS BERSAHABAT DENGAN SEMUA YANG ALLAH KASIHI
|