Bacaan : Efesus 5:22-33
Apakah tujuan orang menikah? Supaya bahagia? Bagaimana jika tidak
bahagia? Banyak pasangan yang hidupnya susah setelah menikah. Ada
yang kesulitan menghadapi karakter pasangannya yang sulit diubah.
Akibatnya sering cekcok. Ada yang susah karena anaknya autis atau
cacat mental. Yang lainnya terus-menerus dihadapkan pada musibah.
Jika visi pernikahan Anda cuma demi mengejar kebahagiaan, bisa jadi
Anda kecewa!
Firman Tuhan memandang pernikahan lebih sebagai proses pembentukan
atau pendewasaan. Istri diminta "tunduk", artinya belajar menghargai
kepemimpinan suami. Dengan merendahkan diri, istri dapat menjaga
harga diri suaminya. Begitu pula suami diminta belajar mengasihi
istri seperti merawat tubuhnya sendiri. Bahkan seperti Kristus
mengasihi jemaat (ayat 25,29,32). Di zaman itu, budaya Romawi
menempatkan suami sebagai figur kepala keluarga dengan kuasa tak
terbatas. Lumrah jika suami bersikap sebagai tuan yang minta
dilayani. Namun, para suami kristiani tidak boleh begitu. Mereka
harus "mengasuh dan merawat" istri (ayat 28,29). Artinya menyediakan
waktu dan perhatian yang cukup. Rupanya, untuk mewujudkan pernikahan
kristiani dibutuhkan penyangkalan diri dari kedua pihak. Menikah
ibarat sekolah, yang melaluinya sifat-sifat kita dibentuk.
Dan, proses pembentukan itu menyakitkan! Gary Thomas, pengarang buku
Sacred Marriage (Pernikahan yang Kudus), berkata: "Tuhan merancang
pernikahan untuk membuat Anda suci, lebih daripada membuat Anda
bahagia." Kebahagiaan pernikahan adalah buah atau hadiah dari
perjuangan menyangkal diri. Ia tak akan datang sendiri -JTI
PERNIKAHAN KRISTIANI
MERUPAKAN SEKOLAH UNTUK MEMURNIKAN HATI
|