Bacaan : Hosea 8:1-6
Beberapa waktu yang lalu, seorang kolega marah terhadap saya. Usut
punya usut ternyata ia kecewa karena saya lupa tidak memberitahukan
suatu berita penting kepadanya. Kelalaian saya ternyata menyebabkan
dia merasa bahwa saya tidak menghargainya, tidak menganggapnya
penting. Sikap saya telah menyakiti hatinya.
Di masa Nabi Hosea hidup, bangsa Israel juga pernah menyakiti Tuhan
dengan cara yang serupa. Walaupun Allah telah menyatakan diri secara
jelas dalam memimpin kehidupan mereka dari waktu ke waktu, namun
mereka malah beribadah kepada dewa-dewa asing. Lebih dari itu, mereka
juga mulai "menyingkirkan" Tuhan dari kehidupan mereka. Mereka tidak
lagi merasa perlu bertanya kepada Tuhan dalam mengambil keputusan
penting; seperti mengangkat raja maupun pemuka umat (ayat 4). Mereka
tidak lagi merasa perlu meminta persetujuan Tuhan dalam melakukan
sesuatu.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita menganggap Tuhan sebagai yang nomor
satu dalam hidup kita? Apakah Tuhan adalah Pihak yang begitu penting
bagi kita, sehingga kita selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya
sebelum bertindak? Atau kita merasa dapat membuat keputusan kita
sendiri tanpa persetujuan-Nya? Amsal 3:6 mengingatkan bahwa kita harus
mengakui Dia, sebagai Tuhan yang memimpin hidup kita. Dari situ kita
akan selalu merasa perlu bertanya kepada-Nya dalam mengambil suatu
langkah. Dengan demikian, Dia akan meluruskan langkah kita. Tiap-tiap
hari, selalu ada banyak hal perlu kita pertimbangkan. Apakah Anda
rindu mengakui Dia sebagai Pemimpin Hidup kita? —GS
BILA DIA YANG MEMIMPIN LANGKAH
MAKA HIDUP ANDA AKAN TERTATA. YAKINLAH!
|