Bacaan : Filipi 1:20-26
Pada sekitar abad ke-2 ada seorang yang bernama Aristides yang menulis
kesaksian demikian tentang cara hidup orang kristiani pada zaman itu
demikian: "Apabila ada di antara mereka yang meninggal, mereka tidak
mengantar jenazah dengan ratapan dan tangisan, tetapi justru dengan
nyanyian dan pujian. Mereka melakukannya seolah-olah sedang menghantar
orang yang berpindah tempat; dari satu tempat ke tempat lain yang
lebih baik."
Dalam perspektif iman kristiani, kematian hanyalah akhir dari
kehidupan di dunia ini, sekaligus merupakan awal kehidupan baru dalam
kekekalan. Kematian bisa diumpamakan sebagai orang yang membongkar
kemah tempat tinggalnya (2 Korintus 5:2,4). Lalu ia pergi ke tempat
baru, mendirikan kemah baru di sana, dan memulai lagi kehidupan yang
baru.
Itulah sebabnya, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa "hidup
adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" bagi orang-orang yang hidup
di dalam Kristus, maka kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan dan
karenanya perlu diiringi dengan ratapan. Namun, kematian adalah sebuah
"jalan" untuk hidup bersama-sama dengan Kristus. Kalaupun kita
menangis, itu lebih karena diri kita yang kehilangan atau keluarga
yang ditinggalkan. Sementara saudara yang meninggal itu sendiri sudah
berada di tempat yang lebih baik.
Jadi, sebetulnya tidak tepat mengiringi seseorang yang meninggal
dengan ucapan, "Turut berdukacita." Ucapan tersebut tidak mencerminkan
iman kristiani. Untuk menyatakan empati dan simpati kepada keluarga,
jauh lebih tepat bila kita mengucapkan: "Turut merasa kehilangan" —AYA
HIDUP DI DUNIA ADALAH KESEMPATAN UNTUK MENGUMPULKAN
BEKAL BAGI KEHIDUPAN KEKAL NANTI
|