Bacaan : Habakuk 3:17-19
Bila segala sesuatu tampak tak terkendali dan di luar rencana sehingga
mengganggu kenyamanan dan kestabilan, bagaimana kita menghadapinya?
Doa Habakuk ini bukan doa yang nyaman. Realitas hidup Habakuk adalah
ketidakadilan, penindasan yang merajalela. Payahnya, Tuhan seolah-olah
membiarkan semuanya itu. Tidak ada keadilan! (Habakuk 1:2,3).
Karenanya Tuhan menghukum Israel dengan perantaraan bangsa lain.
Namun, bangsa lain yang menjarah ini kemudian akan berhadapan sendiri
dengan murka Tuhan (2:6-20). Suasana benar-benar kelam. Di sinilah
puisi doa Habakuk teruntai. Itulah sebabnya doa ini dinyanyikan dalam
nada ratapan (ayat 3).
Habakuk memulai puisi ratapan tentang hidup yang mengkhawatirkan
dengan merefleksikan kuasa Tuhan yang melebihi kekuatan-kekuatan
mitologis (ayat 1-16). Masalahnya, kita sering menganggap kuasa-kuasa
lain lebih berjaya daripada Tuhan. Kuasa Tuhan, entah bagaimana,
kurang berasa. Di sinilah Habakuk menjadi contoh bagi kita. Perhatikan
ungkapan sang nabi di akhir puisi doanya. Pesannya amat kuat dan
jelas. Barangkali dapat dibahasakan ulang bahwasanya iman tidak boleh
ditentukan oleh berkat Tuhan. Iman tidak ditentukan oleh baiknya
situasi. Iman kepada Tuhan tidak boleh berubah relatif sesuai dengan
apa yang enak atau tidak enak bagi kita. Dalam bahasanya sendiri
Habakuk berdoa, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon bakung
tidak berbuah ... kambing domba terhalau dari kurungan ... namun aku
akan bersorak-sorak, beria-ria di dalam Allah penyelamatku."
Apakah dimensi iman yang sedewasa ini menjadi milik kita? —DKL
HABIS HUJAN TAMPAK PELANGI
TERHADAP TUHAN, JANGAN PERNAH PATAH HATI
|