Bacaan : Kejadian 3:1-21
Sebuah cerita humor. Suatu hari Iblis bertemu Tuhan. "Tuhan, manusia
itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang
disalahkan. Kata mereka, digoda Iblis," keluhnya. "Sama, Aku juga
begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami istri bercerai,
mereka bilang, sudah kehendak Tuhan," kata Tuhan pula.
Begitulah kecenderungan manusia; lari dari tanggung jawab, senang
mencari kambing hitam, melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Itu
juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa.
Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah
"terlarang" itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa (ayat 12). Hawa pun
tidak terima, sehingga ia juga melemparkan kesalahannya kepada ular
(ayat 13).
Tentu saja ini kecenderungan buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan
kepada pihak lain, bukan saja berarti kita telah melipatgandakan dosa
kita, tetapi kita juga jadi tidak belajar dari kesalahan. Lagipula,
betapa pun cerdiknya kita bersembunyi dari dosa, kita tidak bisa lari
dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari
akibat dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap
dosa kita di hadapan Tuhan.
Dosa, kalau dibiarkan akan "menggelinding" melahirkan dosa-dosa
lainnya. Tidak ada jalan lain, kita harus memutus mata rantai dosa;
dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Untuk sesaat mungkin
kita akan "sakit" menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada
kita harus menanggung akibat yang berkepanjangan —AYA
BERANI BERTANGGUNG JAWAB ADALAH SALAH SATU CIRI
WATAK DAN PRIBADI YANG DEWASA
|