Bacaan : Kejadian 22:1-19
Saat merenungkan pengorbanan Ishak oleh Abraham, tak ayal perhatian
kita terfokus pada kebesaran dan kerelaan hati Abraham untuk
mempersembahkan anak tunggalnya sebagai wujud ketaatan pada Allah.
Sisi Ishak nyaris tak pernah dibicarakan, padahal sisi ini menawarkan
pelajaran yang tak kalah berharga.
Ketika itu Ishak sudah cukup besar sehingga Abraham
menyuruhnya memikul kayu untuk korban bakaran (ayat 6). Saya
membayangkan ia cukup kuat untuk melawan Abraham yang berusia seratus
tahun lebih tua darinya. Ketika Abraham hendak mengikatnya, bisa saja
ia memberontak dan melarikan diri. Nyatanya, Ishak pasrah (ayat 9). Ia
membiarkan dirinya diletakkan di atas mezbah, siap dikorbankan. Ia
memercayai kehendak baik ayahnya, dan juga memercayai kehendak baik
Allah yang disembah oleh ayahnya. Ia tampaknya mengerti bahwa apa pun
yang terjadi pada dirinya, semuanya itu berlangsung demi suatu
kebaikan. Di sini Ishak menjadi simbol Kristus yang berserah pada
kehendak Bapa-Nya.
Sikap Ishak meneladankan penyerahan diri yang total. Penyerahan diri
semacam itu berangkat dari pengertian bahwa Allah itu selalu baik dan
tidak mungkin mencelakakan kita. Meskipun kita harus melewati
pengorbanan yang menyakitkan, pada akhirnya rencana Allah bagi
kehidupan kita senantiasa mendatangkan damai sejahtera. Sosok Ishak
mewakili iman seperti seorang anak kecil, yang menandai orang-orang
yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Matius 18:3).
Sebagai anak-Nya, siapkah kita juga "diikat dan dikorbankan" dengan
tetap memercayai hati-Nya? —ARS
KESEDIAAN KITA UNTUK BERKORBAN BAGI ALLAH
MENUNJUKKAN SEDALAM APA IMAN KITA KEPADA-NYA
|