Bacaan : Yohanes 21:15-19
Seperti apakah masa depan kita nanti? Para pengamat lingkungan
meramalkan hidup akan semakin sulit. Meningkatnya pemanasan global
akan membuat kota-kota di pesisir terendam air. Jumlah ikan di laut
berkurang, bahkan akan habis karena terlalu banyak dikeruk. Bensin,
solar, dan minyak tanah tidak ada lagi. Kalaupun ada, pasti mahal
sekali. Persaingan hidup semakin tajam. Belum lagi munculnya krisis
pangan, karena pertambahan penduduk tak seimbang dengan pertambahan
produksi pangan. Jaringan televisi CNN pernah menayangkan gambaran
suram masa depan bumi dalam tayangan berjudul Planet in Peril (Dunia
dalam Ancaman Bahaya). Sungguh mengerikan!
Ketika Yesus menjelaskan masa depan Petrus kepadanya, Petrus juga
merasa ngeri. Bayangkan, Yesus mengatakan bagaimana ia akan diikat dan
dibawa ke tempat yang tidak ia kehendaki (ayat 18). Penganiayaan
terbayang di depan. Ibarat film, hidupnya tak akan berakhir dengan
happy ending. Di ujung jalan, salib menanti. Lalu, apakah Petrus
lantas tak bersemangat hidup? Tampaknya tidak, karena sesudah
memberitahukan semuanya Yesus berkata, "Ikutlah Aku" (ayat 19).
Artinya, asal Petrus terus melangkah bersama Yesus, ia akan dimampukan
untuk bertahan sampai akhir. Kenyataan membuktikan bahwa akhirnya
Petrus mati disalib, namun ia tidak menyesal. Dengan tegar ia
menghadapinya, malahan minta disalib terbalik.
Seperti apakah masa depan kita? Tak ada jaminan bahwa hidup akan
semakin baik atau bumi semakin ramah. Namun, kita memiliki jaminan
penyertaan Tuhan. Siapa saja yang mengikut Yesus akan dimampukan untuk
tegar menghadapi situasi, seburuk apa pun —JTI
YANG PENTING BUKANLAH TAHU MASA DEPAN SEPERTI APA
MELAINKAN TAHU KITA BERJALAN DENGAN SIAPA
|