Bacaan : Efesus 5:1-14
Mata kita memang luar biasa. Perhatikan apa yang terjadi jika listrik
di sekitar kita mendadak mati. Ruangan yang terang dan semua terlihat
jelas oleh mata, tiba-tiba menjadi gelap dan tak terlihat. Sesaat,
kita tidak bisa melihat apa pun. Namun, mata kita berangsur-angsur
menyesuaikan diri. Lima menit kemudian, kita bisa melihat bayangan
benda secara samar dengan bantuan cahaya minim dari luar. Tiga puluh
menit kemudian, mata kita akan beradaptasi penuh. Ia menjadi sejuta
kali lebih sensitif dibanding jika berada di tempat terang. Akibatnya,
kita menjadi terbiasa melihat di dalam gelap.
Paulus menegaskan pada jemaat di Efesus untuk bersikap ekstra
hati-hati terhadap kebiasaan berbuat dosa. Percabulan dan
keserakahan, misalnya, bukan hanya dilarang. Disebut saja jangan (ayat
3)! Bahkan jika perlu, Paulus meminta mereka berhenti berkawan dengan
orang yang suka hidup dalam kegelapan (ayat 7). Mengapa begitu
ekstrem? Karena dosa harus dihindari sejak dini. Jika ditolerir,
lambat laun orang akan terbiasa berjalan dalam kegelapan. Dosa yang
lama dibiarkan membuat pelakunya tak lagi merasa bersalah, malah
menjadi betah. Umat menjadi lebih sensitif pada dosa ketimbang kepada
Tuhan. Untuk itu, Paulus mengajak mereka hidup "sebagai anak terang".
Artinya, terus membuka hati dan mengarahkannya pada Tuhan, sehingga
kegelapan sirna.
Orang sering berprinsip "coba sedikit saja tidak mengapa". Ini tidak
benar, karena kebiasaan berdosa selalu bermula dari yang sedikit.
Lagipula terang dan gelap tak dapat bercampur. Di mana terang hadir,
kegelapan kabur. Jika benar kita anak-anak terang, jangan beri tempat
sedikit pun pada kegelapan —JTI
BEBERAPA BUTIR RAGI DOSA SUDAH CUKUP
UNTUK MEMORAK-PORANDAKAN KEDAMAIAN HIDUP
|