Bacaan : Kolose 3:22-25
Kualitas sebuah pekerjaan tidak ditentukan oleh "nilai rohani" yang
terkandung dalam pekerjaan itu—misalnya pendeta atau orang yang
bekerja di lembaga keagamaan, tetapi oleh motivasi yang mendasarinya.
Seorang petani yang bekerja dengan motivasi "bekerja buat Tuhan", akan
lebih bernilai karyanya, daripada pendeta yang berkhotbah sekadar
untuk mendapatkan honorarium atau pujian.
Pekerjaan apa pun—selain tentunya baik dan benar—yang penting
sungguh-sungguh dilakukan untuk Tuhan. Ada sebuah sajak yang dikutip
oleh Pdt. Eka Darmaputera dalam salah satu bukunya, Tuhan dari Poci
dan Panci. Konon sajak itu ditulis oleh seorang pekerja rumah tangga
berumur 19 tahun:
Tuhan dari setiap poci dan panci,
aku tak punya cukup waktu,
bukan pula seorang ahli,
untuk menjadi anak-Mu dengan mengerjakan yang suci-suci.
Tapi jadikanlah aku anak-Mu melalui makanan yang kusaji.
Jadikanlah aku anak-Mu melalui piring-piring yang kucuci.
Hangatilah dapur ini dengan kasih-Mu.
Terangi dapur ini dengan sinar-Mu.
Sama seperti ketika Engkau menyajikan makanan di tepi danau,
atau ketika perjamuan malam.
Dan terimalah pekerjaanku yang sehari-hari ini,
yang kukerjakan bagi Engkau sendiri.
Nasihat Paulus memang ditujukan bagi para hamba dalam hal ketaatan
kepada tuannya. Namun juga berlaku bagi semua orang dalam setiap
profesi. Bukankah setiap profesi sangat berarti, jika dikerjakan
sebagai bagian dari persembahan kepada Tuhan? —AYA
BILA PEKERJAANMU MENYAPU JALAN
LAKUKAN SEPERTI BEETHOVEN MENGGUBAH LAGU —M. LUTHER KING
|