Bacaan : Matius 6:5-14
Tony Blair memenangkan pemilu dengan keunggulan suara yang amat besar.
Menjelang pengangkatannya sebagai Perdana Menteri Inggris, ia
menghadap Ratu Elizabeth. Film The Queen menggambarkan bagaimana ia
dengan penuh percaya diri berkata, "Yang Mulia, partai saya telah
memenangkan pemilu dan karena itu sekarang saya menghadap dan memohon
perkenan Yang Mulia untuk membentuk suatu pemerintahan."
Sayangnya, ternyata sikap Blair itu menyalahi adat. Semestinya raja
atau ratulah yang meminta kesediaan calon perdana menteri untuk
menjalankan tugas. Namun, dengan lembut Ratu Elizabeth mengoreksinya.
"Tugas telah ditetapkan atasku, sebagai ratu atasmu, untuk mengundang
engkau menjadi Perdana Menteri dan membentuk pemerintahan di dalam
namaku."
Sistem pemerintahan monarki menyediakan ilustrasi menarik bagi
dinamika kehidupan dalam Kerajaan Allah. Tak jarang, kita juga
tergelincir bersikap seperti Tony Blair. Dengan penuh percaya diri
kita merasa berhak "membentuk pemerintahan" sendiri, hidup secara
egois menurut kemauan pribadi. Ini seperti sikap pemain orkestra yang
mau menonjolkan kecakapannya sendiri, sehingga menyimpang dari
aransemen, dan justru merusak harmoni.
Doa Bapa Kami menjungkirbalikkan ilusi tersebut. Yesus mengajarkan
fokus hidup yang benar: kekudusan nama Allah, kerajaan-Nya, dan
kehendak-Nya. Dia seperti dirigen yang menyodorkan notasi musik,
mahakarya Sang Maestro, dan meminta kita memainkan bagian kita,
mengikuti aransemen-Nya, guna mengumandangkan harmoni bagi Sang Raja,
Allah Bapa kita —ARS
HIDUP BERPUSAT PADA DIRI SENDIRI MENDATANGKAN KEKACAUAN
HIDUP BERPUSAT PADA ALLAH MEMBUAHKAN KEHARMONISAN
|