Bacaan : Habakuk 3:17-19
Mungkin Habakuk 3:17-19 tidaklah lazim dibacakan dalam
perayaan Hari Pengucapan Syukur, saat seluruh keluarga kami dan
tamu-tamu duduk menghadapi hidangan kalkun dengan segala perlengkapannya. Namun saya mempunyai alasan khusus dalam memilih ayat-ayat tersebut. Saya merasa bahwa bersyukur tidaklah sekadar
menundukkan kepala dan berterima kasih. Apalagi ketika menyadari
bahwa dibandingkan dengan banyak orang miskin di dunia, saya
termasuk berkelebihan.
Nabi Habakuk sedang menantikan penggenapan firman Tuhan,
yakni saat negaranya dihancurkan oleh bangsa Kasdim yang kejam,
yang dipanggil Allah untuk menghukum umat-Nya karena ketidaktaatan dan jalan-jalan mereka yang jahat (Habakuk 1:5-6). Ia berkata, "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak
berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang
tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari
kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan
bersorak-sorak di dalam TUHAN" (3:17-18).
Kata-kata itu membuat saya tercenung dan bertanya, "Apakah
saya bersyukur kepada Allah, baik saat Dia memberi berkat atau
tidak?" Habakuk mempertimbangkan bagaimana respon yang akan
diberikannya apabila ia kehilangan semua berkat yang semestinya
ia miliki. Ia menyimpulkan, "Aku akan ... beria-ria di dalam
Allah yang menyelamatkan aku" (ayat 18).
Keadaan mungkin saja berubah, namun Allah tetap sama. Itulah
alasan kita untuk selalu mengucap syukur --DCM
We can give thanks in every trial
And say, "Your will be done,"
For God\'s at work in everything
To make us like His Son. --DJD
UCAPAN SYUKUR TERGANTUNG PADA APA YANG ADA DI HATI ANDA
BUKAN PADA APA YANG ADA DI TANGAN ANDA
|