Bacaan : Kisah Para Rasul 20:17-38
Memang canggung dan sulit mengucapkan selamat tinggal kepada
seseorang yang Anda kasihi. Dalam hati Anda bertanya-tanya,
mungkinkah saya bertemu dengannya lagi? Anda mungkin berharap
tidak pernah berhubungan terlalu dekat dengan orang itu, karena
perpisahan terasa sangat menyakitkan.
Saya memikirkan hal ini ketika melihat beberapa foto milik
seorang wanita muda yang dikumpulkannya semasa di SMU. Ia bercerita tentang beberapa mahasiswa asing yang menjadi teman dekatnya. Ketika saya menanyakan bagaimana ia bisa bersahabat akrab
dengan mereka, ia menjawab, "Saya tidak tahu. Yang saya ingat
hanyalah kepedihan saat harus mengucapkan selamat tinggal kepada
mereka!"
Cepat atau lambat, kita semua akan mengalami tangis perpisahan. Sebagai contoh, ketika Rasul Paulus harus pergi setelah mendidik dan mengajar jemaat di Efesus selama 3 tahun, "Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan ... sangat berdukacita,
terlebih-lebih karena ... mereka tidak akan melihat mukanya lagi"
(Kisah Para Rasul 20:37-38).
Sebagai orang Kristen, kita memiliki alasan kuat untuk
membangun hubungan yang erat, walau suatu saat akan berpisah
juga. Pengharapan akan kebangkitan yang akan datang memberi
jaminan bahwa kelak kita akan dipersatukan kembali di hadirat
Allah.
Perpisahan mungkin memang sangat menyakitkan. Namun jangan
biarkan hal ini menghalangi Anda untuk menjalin hubungan yang
erat dengan saudara-saudara seiman yang mengasihi Tuhan. Dia akan
membuat persahabatan itu berarti--baik sekarang maupun dalam
kekekalan! --MRDII
Farewells and partings may bring grief,
The sorrow can be hard to bear,
But someday those who the Lord
Will meet in heaven with Him there. --Sper
ORANG KRISTEN TAK PERNAH MENGUCAPKAN
KATA-KATA PERPISAHAN
|