Bacaan : Markus 6:30-32
Seorang pemuda sedang memotong kayu dengan kampak. Dari pagi hingga
siang ia terus bekerja. Tidak ada waktu untuk berhenti. Ia harus
mengejar target. Itu sebabnya, ia terus-menerus mengayunkan
kampaknya. Suatu kali seorang bapak tua datang menghampirinya. "Nak,
kampakmu sudah tumpul. Berhentilah sejenak untuk mengasahnya," kata
si bapak tua. "Wah, tidak ada waktu, Kek. Saya harus mengejar
target," sahut si pemuda.
Kehidupan di dunia ini semakin hiruk pikuk; tuntutan dan tantangan
zaman semakin besar. Kita tidak terhindarkan dari kesibukan dan
belenggu rutinitas. Padahal, ibarat sebuah mesin, kita tentu
membutuhkan istirahat. Hidup dalam rutinitas tanpa sejenak pun
"beristirahat" sama dengan pemuda dalam cerita di atas, yang terus
memotong kayu tanpa sedikit pun waktu untuk mengasah kampaknya,
sehingga kampaknya pun menjadi tumpul. Inilah makna pentingnya waktu
teduh: keluar sejenak dari kesibukan rutin untuk membangun relasi
pribadi dengan Tuhan.
Waktu teduh lebih merupakan kebutuhan, daripada kewajiban. Karena
itu, kita perlu meresponsnya dengan sukacita. Dalam rutinitas
sehari-hari, perlu selalu ada waktu untuk sejenak berdiam diri.
Menutup mata dan telinga dari segala hiruk pikuk kegiatan rutin
sehari-hari. Menyediakan diri dan membuka hati untuk Tuhan,
membiarkan Dia menyapa dengan cara-Nya. Tuhan Yesus telah
mencontohkannya. Di tengah kesibukan-Nya yang luar biasa -- mengajar
dan menolong orang -- Dia selalu menyempatkan diri untuk sejenak
menyepi, untuk menenangkan diri dalam waktu teduh (ayat 31,32) -AYA
WAKTU TEDUH BERSAMA TUHAN BUKAN SAJA MENYEGARKAN
MELAINKAN JUGA MENYEHATKAN JIWA
|