Bacaan : Pengkhotbah 3:1-15
Bagi penduduk Amerika, jembatan Mississippi memiliki peran yang
vital dalam menghubungkan perekonomian negara bagian Minnesota yang
berbasis pertanian. Jembatan sepanjang 27,6 kilometer itu
menghubungkan kota Minneapolis dan Saint Paul. Jembatan itu dibangun
oleh Departemen Transportasi Minnesota pada 1967 dengan tinggi 64
kaki atau sekitar 20 meter. Namun, jembatan delapan lajur tersebut
ambruk pada Rabu, 1 Agustus 2007, pukul 18.00 waktu setempat. Diduga
jembatan runtuh bukan karena aksi teror, melainkan karena konstruksi
jembatan telah rapuh ditelan usia. Jembatan yang berusia empat puluh
tahun tersebut, akhirnya ambruk juga.
Firman Tuhan dengan tepat mengatakan "segala sesuatu ada masanya"
(ayat 1). Sekolah kehidupan telah mengajar Salomo, raja Israel di
Yerusalem, bahwa segala sesuatu ada waktunya. Waktu berlalu begitu
cepat. Tak seorang pun mampu menahannya. Sepanjang berproses dengan
waktu, seseorang dapat menikmati dinamika kehidupan. Ada waktu yang
menyenangkan, ada juga waktu yang menyedihkan. Namun, Allah selalu
membuat segala sesuatu indah pada waktunya.
Selagi napas dikandung badan, menggunakan waktu dengan bertanggung
jawab adalah suatu keharusan. Bukankah segala sesuatu akan terus
berubah? Filsuf Heraclitus memberikan ungkapan bijak, "Tidak ada
yang tetap di dunia ini kecuali perubahan." Hari ini kita masih
bernapas, besok belum tentu. Hari ini kita masih bekerja dengan
gagah, besok tidak tahu. Oleh karena itu, mari kita menaklukkan diri
kepada-Nya sebelum ambruk bak jembatan Mississippi -MZ
ORANG YANG BIJAK MEMEDULIKAN WAKTU
|