Bacaan : Kejadian 43:1-14
Barangkali banyak orang kristiani sudah mengetahui kisah di balik
penulisan lagu It Is Well with My Soul (Nyamanlah Jiwaku). Lagu itu
menggambarkan iman yang luar biasa dari sang penulis, Horatio G.
Spafford. Ia bangkit untuk menuliskan lagu ini di tengah rasa duka
yang mendalam, yakni saat ia harus kehilangan empat anaknya yang
tenggelam di Samudra Atlantik. Ya, di tengah permasalahannya yang
besar Spafford tetap dapat melihat penyertaan Tuhan di dalam
hidupnya, sehingga berulang kali ia mengatakan, "Nyamanlah jiwaku,
nyamanlah jiwaku."
Yakub adalah sosok yang harus mengalami banyak rasa duka pada masa
tuanya. Setelah anak kesayangannya, Yusuf, dikabarkan mati, kini ia
harus bersiap-siap kehilangan anak bungsunya, Benyamin. Ia tahu
bahwa hal itu sangat sulit bagi dirinya, bahkan ia pun menyebut apa
yang dialaminya sebagai malapetaka (ayat 6). Namun, di tengah segala
rasa duka yang berat di hatinya, Yakub masih mengingat dan tetap
berharap bahwa Allah yang Mahakuasa tetap menyertai dirinya dan juga
anak-anaknya (ayat 14).
Di tengah susah dan beratnya hidup ini, kita perlu tetap belajar
menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
Kemahakuasaan-Nya akan tetap menyertai anak-anak-Nya. Inilah hal
yang mesti selalu kita ingat dan syukuri. Memang kita kerap "tidak
melihat" tangan Tuhan beserta kita, tetapi bukan berarti Tuhan tidak
beserta kita. Barangkali Tuhan membiarkan kita hanya melihat padang
gurun yang gersang, tetapi sesungguhnya Dia telah menyiapkan sungai
di depan kita -RY
DI TENGAH KESULITAN APA PUN
INGATLAH AKAN PENYERTAAN TUHAN
|