Bacaan : Matius 21:18-22
Orang Farisi dan ahli Taurat adalah para pengajar dan penafsir
Perjanjian Lama, khususnya kelima kitab Musa atau yang biasa disebut
Pentateukh. Mereka sangat ketat memegang dan menjalankan aturan
keagamaan dan adat istiadat, bahkan sampai begitu detail. Misalnya,
tentang membawa beban pada Hari Sabat, tentang mencuci tangan,
membasuh diri, atau mempersembahkan korban, semuanya punya aturan
yang sangat terperinci. Orang yang melanggar atau yang tidak dapat
menjalankannya dengan benar dan penuh bisa dikucilkan, dianggap
tidak bermoral, bahkan dicap sebagai orang berdosa.
Tuhan Yesus sangat mengecam sikap tersebut. Sebab ibadah kepada
Tuhan bukan hanya menyangkut aturan keagamaan (kultis), melainkan
juga berkenaan dengan kehidupan sehari-hari (etis). Bukan hanya soal
rajin ke gereja, berdoa, berpuasa, memberi persembahan, melainkan
juga soal perilaku dan sikap hidup. Apalah artinya rajin ke gereja,
tekun berdoa dan berpuasa, tidak pernah absen memberi persembahan,
jika kita menutup mata terhadap ketidakadilan, tindakan kita jauh
dari nilai kesetiaan, dan hati kita dipenuhi kesombongan? (Mikha
6:8).
Tuhan tidak ingin anak-anak-Nya melakukan ibadah hanya sebatas
kulit, tidak mendarah daging; hanya menjalankan, tetapi tidak
menjiwai. Sekadar menjadi orang-orang yang rajin mengikuti berbagai
aturan keagamaan, tetapi tidak mempraktikkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Orang-orang seperti ini seumpama pohon ara yang berdaun
lebat, tetapi tidak berbuah (Matius 21:19). Tuhan Yesus pun
mengutuknya -AYA
IBADAH YANG SEJATI
TAMPAK DALAM HIDUP SEHARI-HARI
|