Bacaan : 1Petrus 1:1-9
Ibu Merry berusia 72 tahun. Ia menderita kanker lever stadium akut.
Dokter sudah memvonis bahwa hidupnya hanya tinggal hitungan bulan.
Perutnya membesar, dan kerap kali ia harus menanggung kesakitan di
sekujur tubuh. Suatu hari, saya dan istri menengoknya di rumah
sakit. Kami berbincang-bincang. Wajahnya yang kurus pucat tidak
melunturkan semangat dan senyumnya. Saya membacakan firman Tuhan.
Sebelum berdoa, saya mengajaknya bernyanyi, sebab ia senang
menyanyi. "Tante mau nyanyi lagu apa?" tanya saya. "Lagu Berserah
kepada Yesus," jawabnya. Kami pun bernyanyi bersama.
Sungguh luar biasa. Seseorang yang seakan-akan sudah dekat dengan
kematian dan di tengah deraan sakit yang hebat, melantunkan pujian:
"Aku berserah, aku berserah, kepada-Mu Juru Selamat, aku berserah."
Inilah iman yang sejati. Sangatlah biasa bila dalam keadaaan
berkelimpahan, hidup senang, dan sehat walafiat, seseorang
memuji-muji Tuhan. Akan tetapi, sungguh istimewa bila di tengah
kesulitan hidup, dalam pencobaan yang berat, seseorang masih bisa
memuji dan mengagungkan nama Tuhan.
Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada umat kristiani yang
tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia
(ayat 1). Mereka tengah mengalami tekanan dan penganiayaan hebat
akibat iman mereka. Namun, Petrus mengingatkan mereka untuk tetap
gembira walau harus menanggung semua kesulitan itu (ayat 6). Nasihat
ini juga berlaku bagi kita yang mengalami tekanan hidup. Tetaplah
bergembira. Pandanglah pencobaan sebagai sarana untuk "membuktikan"
kemurnian iman kita -AYA
IMAN, SEPERTI JUGA CINTA,
TERUJI PADA SAAT YANG SULIT
|