Bacaan : Kejadian 26:12-31
Dalam sebuah bukunya, Anthony de Mello menceritakan kisah ini: Ada
dua orang bijak yang selama puluhan tahun tinggal bersama dengan
damai. Tak pernah sekali pun mereka cekcok. Suatu hari, seorang dari
mereka berkata, "Bagaimana kalau hari ini kita mencoba untuk
bertengkar?" Yang lain setuju, "Baik, mari kita pertengkarkan
sepotong roti ini." Lalu mereka bersiap-siap memulai pertengkaran
itu. Orang pertama berkata, "Roti ini punyaku. Ini milikku semua."
Orang bijak kedua menyahut, "Tidak apa-apa. Silakan saja ambil
semua." Pertengkaran itu pun gagal.
Dalam bacaan kita hari ini, para gembala Ishak dan gembala Gerar
mempertengkarkan sumur yang digali untuk memberi minum ternak
mereka. Sumur itu layak menjadi rebutan karena airnya yang
berbual-bual (ayat 19). Namun, Ishak tidak mau berlama-lama dalam
pertengkaran itu. Ia pun memilih pindah ke tempat lain dan menggali
sumur yang baru. Sikap Ishak itu pun menuai simpati. Si orang Gerar
kemudian memutuskan untuk berdamai (ayat 28,29).
Keinginan untuk menguasai adalah akar masalah dalam relasi
antarmanusia. Biasanya pertengkaran dipicu dan dipacu oleh sifat
lebih suka menerima daripada memberi; mempertahankan, menuntut,
meminta bagian kita. Kita hanya berfokus pada bagaimana orang
memerhatikan, menghormati, bersimpati dengan kita. Kita hanya mau
didengar, dituruti, dan dimengerti. Sayangnya, kita tidak mau
melakukan hal yang sama terhadap orang lain. Padahal tidak jarang,
justru dengan memberi kita mendapatkan. Ishak telah membuktikannya
-AYA
MEREDAM KEINGINAN UNTUK MENGUASAI
AKAN MEREDAM PERTENGKARAN
|