Bacaan : Lukas 6:46-49
Robert Ginnett, seorang peneliti di Pusat Kepemimpinan Kreatif di
Colorado Springs, mendapati bahwa nilai-nilai yang kita klaim
sebagai milik kita ternyata tidak begitu sesuai dengan tindakan
nyata yang mungkin kita pikirkan.
Seorang eksekutif bisnis yang mengatakan bahwa putrinya yang berusia
lima tahun adalah bagian paling berharga dari hidupnya, menyadari
bahwa biasanya ia berangkat kerja sebelum putrinya bangun dan sering
pulang ke rumah setelah putrinya itu tidur di malam hari. Maka pada
hari Sabtu, ia meluangkan waktu bersama putrinya dan mengajaknya
pergi ke kantornya. Setelah melihat berkeliling, putrinya bertanya,
“Ayah, inikah tempat tinggalmu?” Ia mungkin menyatakan bahwa
putrinya itu penting baginya, tetapi tindakannya telah mencerminkan
apa yang sesungguhnya ia hargai.
Dalam hubungan kita dengan Kristus, Dia meminta ketaatan kita, bukan
perasaan nyaman atau pernyataan percaya. Dia bertanya kepada mereka
yang mengikuti-Nya, “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan,
padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46).
Yesus menggambarkan maksud-Nya dengan perumpamaan pembangun rumah
yang bodoh dan bijaksana (ayat 47-49). Fondasi batu kokoh yang
dibangun oleh pembangun rumah yang bijaksana menggambarkan hasil
ketaatan kita kepada Allah. Perbuatan ini memuliakan Kristus dan
memampukan kita bertahan dalam badai kehidupan.
Apa yang kita lakukan, lebih dari apa yang kita katakana,
mencerminkan apa yang sesungguhnya paling kita hargai —David
McCasland
UNTUK MENUNJUKKAN BAHWA ANDA MENGHARGAI KEKEKALAN
GUNAKANLAH WAKTU ANDA SEBAIK-BAIKNYA
|