Bacaan : 1 Yohanes 3:16-20
Allah lebih mengenal kita daripada kita mengenal diri sendiri. Dia
mengetahui kelemahan kita, kenangan akan dosa yang sering membuat
kita cenderung gagal berulang kali. Dia mengetahui leluhur kita dan
cara kita dibesarkan, pengaruh masa lalu dan masa kini yang
mendorong kita ke jalan yang salah. J.I. Parker menyebutnya
“kekuatan tersembunyi” yang juga merupakan “kenyataan yang menetap”
dari keberadaan kita.
Dalam tahap pertumbuhan kristiani saya, saya berjuang melawan sifat
dan tindakan yang sulit saya kendalikan. Saya seperti Dostoevsky
yang berkata, “Pada dasarnya sifat dasar selalu ingin menampilkan
diri.” Paulus menyebutnya sebagai “dosa yang ada di dalam aku” (Roma
7:17). Hal ini membuat saya merasa bersalah dalam banyak hal, dan
dapat merasa lebih bersalah lagi. Karena itu, hati saya terkadang
mendakwa, sekalipun saya adalah seorang percaya.
Allah mengetahui semua hasrat yang menggoda diri saya. Dia juga
mengetahui keinginan hati saya -- bahwa saya ingin mengasihi sesama
dan rindu untuk melakukan hal yang benar. Dia mengetahui rasa malu
saya ketika gagal dan dengan cepat mengampuni ketika saya
mengakuinya (1 Yohanes 1:9). Kebenaran yang indah ini melegakan hati
ketika saya merasa terdakwa, karena “Allah adalah lebih besar
daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu” (3:20).
Jika Anda memercayai Yesus sebagai Juruselamat tetapi hati Anda
senantiasa mendakwa, ingatlah bahwa Dia mengetahui segala sesuatu
tentang diri Anda dan tetap mengasihi Anda —David Roper
RASA BERSALAH BUKANLAH BEBAN YANG DIBERIKAN ALLAH
UNTUK DIPIKUL ANAK-ANAK-NYA
|