Bacaan : Galatia 2:11-20
Saya tak pernah melupakan teguran keras dari seorang kawan ketika
saya berusia 17 tahun. Ia berjalan ke bagian belakang toko daging
tempat kerja saya dan melihat saya menertawakan kartun yang tidak
senonoh. Ia berkata bahwa ia mengagumi karakter kristiani saya, dan
heran karena saya menertawakan sesuatu yang bersifat dosa dan tak
bermoral. Perasaan malu langsung menerpa diri saya. Dengan malu saya
mengakui bahwa saya telah berdosa.
Tidaklah menyenangkan mendapat teguran, begitu pula tidaklah mudah
menegur orang lain. Jadi, saya dapat membayangkan Rasul Paulus pun
tidak suka menentang Petrus (Galatia 2:11). Tetapi ia merasa harus
melakukannya, karena perbuatan Petrus yang munafik telah melukai dan
membingungkan orang-orang bukan Yahudi yang bertobat di Antiokhia.
Petrus telah makan bersama mereka dengan bebas, tetapi setelah
beberapa orang Yahudi dari Yerusalem mendatangi jemaat Antiokhia, ia
menjauhkan diri dari orang-orang bukan Yahudi itu, karena takut
menghadapi penolakan orang-orang Yahudi. Saya membayangkan Petrus
juga malu, tetapi rupanya ia menerima teguran itu dengan baik dan
mengubah tingkah lakunya. Petrus tahu bahwa Paulus adalah sahabat
sejati yang mengasihinya. Dan di tahun-tahun berikutnya, Petrus
menyebut Paulus sebagai “saudara kita yang kekasih” (2 Petrus 3:15).
Jika Anda harus menegur seseorang, lakukanlah dengan lembut. Jika
Anda ditegur, hindarilah reaksi yang penuh amarah. Anda mungkin
sedang memerlukan “pukulan dengan maksud baik” dari seorang kawan
—Herb Vander Lugt
SAHABAT SEJATI AKAN MENARUH TELUNJUK
PADA KESALAHAN ANDA TANPA MENGUNGKIT-UNGKITNYA
|