Bacaan : Keluaran 15:19-27
Di balik setiap campur tangan Allah yang ajaib bagi kita, selalu ada
jalan iman yang harus dijalani. Saat kuasa Allah menjamah kesehatan,
keuangan, atau hubungan di dalam keluarga kita, kita seharusnya tidak
hanya memuji dan bersyukur kepada Tuhan, tetapi juga menaati-Nya.
Setelah Allah membelah Laut Merah bagi umat-Nya, kemudian
menenggelamkan tentara Firaun yang mengejar mereka, maka mereka pun
mengadakan perayaan besar-besaran untuk memuji Tuhan (Keluaran 15:1-
21). Namun mereka masih harus meneruskan perjalanan menuju tanah
perjanjian. "Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau,
lalu mereka pergi ke padang gurun Syur" (ayat 22). Dari sana mereka
harus berjalan selama tiga hari berturu-turut tanpa mendapat air,
sehingga mereka pun mulai bersungut-sungut.
Dalam rencana ilahi, campur tangan adikodrati memiliki makna yang
lebih dalam. Mukjizat merupakan sarana untuk mengajarkan kepada kita
bahwa kita dapat selalu mempercayai dan menaati pimpinan Allah yang
Mahabesar. Akankah kita mendengarkan suara-Nya dan menaati firman-Nya?
Jika Dia telah memimpin kita menyeberangi laut yang luas, tidakkah Dia
juga akan memimpin kita menuju sumber mata air?
Berbagai kejadian menakjubkan yang tertulis dalam kitab Keluaran
menunjukkan bahwa kita sebenarnya mampu mengalami kekuasaan Allah
tanpa iman kita menjadi goyah. Supaya kita terus mengalaminya,
ingatlah pengalaman akan mukjizat Allah di masa lalu untuk memperkuat
iman kita saat ini --David McCasland
ALLAH YANG MEMIMPIN KITA DI MASA LALU
LAYAK MENDAPATKAN KETAATAN KITA SAAT INI
|