Bacaan : Efesus 4:1-16
Seorang mahasiswa teologi terlibat dalam perdebatan sengit dengan
kepala asramanya. Saat itu mereka sedang mendiskusikan ajaran seorang
ahli teologi yang menurut anggapan si kepala asrama seorang bidaah.
Padahal mahasiswa itu telah memutuskan untuk menjadi pengikut orang
itu dan penganut doktrinnya.
Dengan sikap menggurui, mahasiswa itu memperlihatkan fotokopi sebuah
buku teologi yang ditulis oleh orang itu kepada kepala asramanya. Pria
yang walaupun kurang berpendidikan tapi seorang kristiani yang saleh
itu merasa tak berkutik ketika dihadapkan pada begitu banyaknya
pengetahuan anak muda. Akibatnya, ia merasa frustrasi dan kalah.
Demikian pula kita pun dapat menyalahgunakan roh kebenaran yang agung
dari Kitab Suci untuk menyakiti orang lain. Barangkali kita telah
menerima ajaran dari seorang guru Alkitab yang terkenal, mendapatkan
pemahaman khusus atas firman Tuhan, atau dengan mudah mengutip ayat
nats dari Kitab Suci. Hal ini dapat menjadi pedang bermata dua yang
dapat menjatuhkan atau membangun mental orang lain. Jika kita
menyalahgunakan pengetahuan kita, kita mungkin akan membuat orang-
orang kristiani saling bertentangan dan menghancurkan gereja. Di lain
pihak, kita dapat menggunakan kebenaran untuk menjelaskan, mengajar,
dan memperkaya orang lain jika kita menyampaikannya dengan kasih.
Kebenaran harus dinyatakan dalam kasih (Efesus 4:15). Keduanya tak
terpisahkan! --Dennis De Haan
KEBENARAN MUNGKIN MENYAKITKAN
TETAPI KASIH AKAN MERINGANKAN RASA SAKIT ITU
|