Bacaan : Wahyu 2:1-7
Dahulu, Muynak merupakan kota pelabuhan nelayan yang berkembang pesat
di tepi Laut Aral. Namun kini Muynak hanyalah kota di tepi gurun
pasir. Keadaannya menyedihkan dan berbau amis. Lambung kapal yang
sudah rusak dan berkarat berderet menutupi bukit-bukit pasir. Padahal
dulunya semua kapal itu berlayar di atas permukaan sumber mata air
kehidupan di Asia Tengah.
Perubahan itu mulai terjadi sekitar tahun 1960. Saat itu perencana
kota pemerintah Uni Soviet mulai membelokkan sumber mata air Laut Aral
untuk mengairi perkebunan kapas terbesar di dunia. Tak seorang pun
tahu bahwa kelak kebijakan itu ternyata menimbulkan kerusakan
lingkungan. Cuaca di situ berubah menjadi sangat panas. Musim bertanam
menjadi dua bulan lebih pendek, dan 80 persen tanah perkebunan hancur
diterjang oleh badai garam yang berasal dari dasar laut.
Kejadian yang menimpa kota Muynak itu sama seperti dengan apa yang
terjadi pada jemaat Efesus. Pada saat jemaat itu mengalami
perkembangan rohani yang pesat, para orang percaya di kota Efesus
malah mengalihkan perhatian mereka dari Kristus dan menyibukkan diri
dengan berbagai pelayanan yang dilakukan atas nama-Nya (Wahyu 2:2-4).
Mereka tidak lagi memperhatikan hal terpenting dalam hubungan mereka
dengan Kristus, yaitu kasih mereka kepada-Nya.
Tuhan, tolonglah kami untuk segera mengenali dan bertobat dari
berbagai hal yang mengalihkan perhatian kami untuk mengasihi-Mu.
Alirilah jiwa kami yang gersang ini dengan air hidup-Mu --Mart De
Haan II
UNTUK MEMPERBARUI KASIH ANDA KEPADA KRISTUS
INGATLAH KEMBALI KASIH KRISTUS BAGI ANDA
|