Bacaan : 1Tawarikh 29:10-15
Saya dan istri saya membeli rumah pertama kami ketika kami pindah ke
Grand Rapids, Michigan. Dulu selama saya menjadi pendeta, selalu
tersedia sebuah rumah untuk saya. Saya teringat perasaan saya tatkala
menandatangani hipotek rumah untuk jangka waktu 30 tahun. Seolah-olah
saya tengah mengikatkan diri seumur hidup pada utang.
Akhir-akhir ini ada pikiran lain yang menghantui saya, yakni bahwa
saya takkan pernah memiliki rumah saya sendiri, sekalipun hipotek itu
telah terbayar lunas. Sebab Allah adalah pemilik rumah itu yang
sebenarnya. Segala sesuatu adalah milik-Nya.
Renungan ini memunculkan masalah penting dalam budaya kita yang sangat
materialistis. Kita sebagai orang kristiani harus mengakui bahwa Allah
adalah pemilik sah harta milik kita. Jika tidak, harta itu akan
menjadi sumber frustrasi kita. Sikap kita akan tercermin lewat apa
yang terjadi pada harta kita. Misalnya jika bumper mobil baru kita
penyok, maka hati kita akan hancur berkeping-keping. Kopi yang tumpah
di mebel juga dapat menodai sikap kita. Pencurian dapat dengan mudah
mencuri kedamaian kita.
Kita perlu menyerahkan hak kepemilikan kita kepada Tuhan dan mengemban
tanggung jawab untuk mengurus kekayaan Tuhan itu dengan serius. Bukan
berarti kita boleh bersikap acuh tak acuh dan boros. Dalam hati, kita
harus menyerahkan semua harta kita kepada Allah, dan selalu
mengingatkan diri kita tentang siapa pemilik harta itu yang sebenarnya
(1 Tawarikh 29:11). Ini akan menolong kita menggunakan harta itu
dengan bijaksana, menyimpannya dengan baik, dan menikmatinya seutuhnya
--Dennis De Haan
UKURAN KEKAYAAN KITA YANG SESUNGGUHNYA
ADALAH HARTA YANG KITA MILIKI DI SURGA
|