Bacaan : 2Samuel 9
Seorang pekerja pabrik di Inggris dan istrinya merasa senang ketika
mereka akan dikaruniai anak pertama, apalagi setelah bertahun-tahun
menikah. Menurut pengarang Jill Briscoe, yang menceritakan kisah nyata
ini, si pekerja menyampaikan berita baik ini dengan penuh semangat
kepada teman-teman sekerjanya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa Allah
menjawab doanya. Namun mereka mengejeknya karena meminta seorang anak
kepada Allah.
Ketika bayi itu lahir, ia didiagnosis menderita Sindrom Down. Ketika
sang ayah berangkat kerja untuk pertama kali setelah anaknya lahir, ia
tak tahu bagaimana harus menghadapi teman-teman sekerjanya. "Allah,
beri aku hikmat," doanya. Seperti yang ia khawatirkan, beberapa orang
mengejeknya, "Jadi, Allah memberimu anak seperti itu!" Ayah baru itu
berdiri termenung untuk beberapa lama. Dalam hati ia memohon
pertolongan Allah. Akhirnya ia berkata, "Saya bersyukur Tuhan
memberikan anak ini kepadaku, bukan kepadamu."
Sama seperti pria itu menerima putranya yang cacat sebagai karunia
Allah untuknya, demikian juga Raja Daud menyatakan kebaikannya dengan
sukacita kepada cucu Saul yang "cacat kakinya" (2 Samuel 9:3).
Beberapa orang menolak Mefiboset karena ia pincang, tetapi Daud
menunjukkan bahwa ia menghargai Mefiboset.
Di mata Allah, setiap pribadi sangat berharga. Itu sebabnya Dia
mengutus Putra Tunggal-Nya untuk mati bagi kita. Marilah kita ingat
dengan rasa syukur betapa Dia menghargai kehidupan setiap manusia
--Dave Branon
SETIAP ORANG BERHARGA BAGI ALLAH.
|