Bacaan : Lukas 2:46-52
Saya takkan pernah lupa pada Jake. Kakinya tampak terlalu panjang dan
kurus untuk menahan arus sungai. Sepatu botnya yang bertambal-tambal
dengan warna yang sudah memudar terlihat lebih tua dari dirinya. Rompi
memancingnya yang compang-camping direkatkan dengan peniti. Topi
uzurnya telah koyak dan ternoda oleh keringat. Tangkai pancingnya yang
kuno tampak carut-marut dan penuh balutan.
Saya mengamatinya saat ia menuju ke hulu air yang tenang dan mulai
melemparkan pancingnya. Lihat! Ia memancing di tempat yang sama dengan
tempat saya memancing sebelumnya pada hari itu, dan berhasil
mendapatkan ikan trout, padahal saya tadi tidak mendapatkannya.
Tampaknya ia dapat mengajarkan kepada saya satu atau dua hal. Jadi
saya harus bertanya kepadanya.
Kita akan mendapatkan wawasan dengan mendengarkan mereka yang telah
berpengalaman dan tahu lebih banyak dari kita, yakni pengetahuan yang
tidak kita dapatkan karena terhalang oleh kesombongan kita. Kita dapat
belajar dari orang lain bila kita mau merendahkan hati dan mengakui
betapa sedikit yang kita ketahui. Kesediaan untuk belajar merupakan
tanda orang yang bijaksana.
Renungkan tentang Yesus yang semasa kanak-kanak "duduk di tengah-
tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada mereka" (Lukas 2:46). Amsal 1:5
menyatakan bahwa "baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan
baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan".
Marilah kita bertanya kepada mereka yang hidup dengan mencari hikmat
Allah --David Roper
JIKA ANDA BERPIKIR TELAH MENGETAHUI SEGALA SESUATU
SESUNGGUHNYA ANDA MASIH HARUS BANYAK BELAJAR
|