Bacaan : Yesaya 59
Ketika seorang hakim dipilih untuk menangani kasus rasial yang sering
kali diputuskan secara tak adil, banyak pengacara memuji pilihan itu.
"Ia jujur, bahkan sangat jujur, dan adil," kata seseorang. "Ia sangat
mempedulikan semua yang terlibat, baik korban maupun tersangka," kata
yang lain. Banyak orang juga membicarakan kecakapannya yang hebat
sebagai hakim yang adil.
Pujian semacam itu seharusnya tidak mengherankan, karena kita tentu
mengharap keadilan dari seorang hakim. Allah, Hakim alam semesta ini
pun menuntut kita semua untuk bertindak adil. Dia ingin kita
menegakkan keadilan bagi orang yang tertindas. Kegagalan bangsa Israel
untuk melakukan hal ini merupakan salah satu penyebab kejatuhan bangsa
ini (Yesaya 59:9-15).
Saat ini di banyak negara, semakin banyak orang tinggal di perkotaan.
Di tengah daerah yang padat penduduk itu muncullah kondisi-kondisi
yang menumbuhkan kemarahan, rasa tak berdaya, dan keputusasaan.
Pemilik rumah meminta uang sewa yang tinggi untuk perumahan kumuh.
Apalagi adanya dua standar keadilan yang berbeda mengakibatkan tidak
semua ras atau warga negara mendapat perlakuan hukum yang sama.
Praktik sewa-menyewa rumah yang tidak adil adalah hal yang umum. Dan
banyak lagi kesenjangan yang mengarah pada ketidakadilan.
Sebagai umat kristiani, kita harus menjadi orang pertama yang
menegakkan keadilan di masyarakat. Yang terutama bukan untuk diri
sendiri, tetapi bagi orang lain. Dan kita harus menghapuskan prasangka
dan sikap-sikap tidak adil dari dalam hati kita --Dennis De Haan
KEADILAN ALLAH
TIDAK MEMBERI TEMPAT BAGI PRASANGKA
|