Bacaan : 2Timotius 2:1-13
Saat itu seperti mimpi buruk saja rasanya. Sebuah truk tangki dengan
muatan 2.500 galon gas propana terbakar saat diparkir di gudang
penyimpanan bahan bakar. Jilatan Api menyambar-nyambar kira-kira 9
sampai 12 meter dari bagian belakang truk dan segera menjalar ke dok
pengisian. Segera beberapa tangki di dekatnya juga terancam meledak.
Pada saat itu, setelah menolong sopir truk yang mengalami luka bakar
cukup parah, si manajer gudang penyimpanan tersebut segera melompat
masuk ke dalam truk dan mengendarai truk yang terbakar itu menjauh
dari gudang. Tindakannya yang cepat dan berani ini berhasil
menyelamatkan nyawa banyak orang.
Rasul Paulus juga mempertaruhkan nyawanya demi orang lain (2 Timotius
2:10). Ia dilempari batu dan dibiarkan mati (Kisah Para Rasul 14:19).
Pada kesempatan lain ia dikeroyok, disesah, dan dipenjara (16:22,23).
Tiga kali kapalnya kandas, dan beberapa kali ia dicambuk dan dipukul
dengan tongkat (2 Korintus 11:23-28). Mengapa Paulus rela menanggung
penderitaan semacam ini? Karena mengingat tentang api kekal dan
kehidupan kekal, maka dengan senang hati ia menanggung risiko itu.
Apakah kita dapat memandang bahaya seperti cara pandang Paulus? Adakah
kita memanfaatkan berbagai kesempatan untuk menyelamatkan banyak orang
yang membutuhkan kabar baik tentang Kristus? Adakah kita memiliki
tujuan yang sama seperti Paulus, yang rela menanggung segala perkara
demi mereka yang terhilang? --Mart De Haan II
MEMANG BERISIKO UNTUK BERADA DI UJUNG DAHAN
TETAPI JUSTRU DI SITULAH LETAK BUAHNYA
|