Bacaan : 1Korintus 10:1-13
Beberapa tahun yang lalu ketika sedang berjalan-jalan di Gunung
Rainier, Washington, saya dan istri saya Carolyn tiba di sebuah sungai
es yang sedang meluap. Di situ telah terpasang balok datar yang
melintang di sungai sebagai jembatan darurat. Namun jembatan darurat
itu tak ada pegangannya, lagi pula licin.
Menyeberang di atas balok yang basah tampak sangat menakutkan,
sehingga Carolyn tidak ingin menyeberang. Namun akhirnya ia mendapat
keberanian dan perlahan-lahan ia berjalan setapak demi setapak dengan
hati-hati menuju seberang.
Sewaktu kembali kami harus berjalan di atas balok itu lagi, dan ia
menyeberang dengan kehati-hatian yang sama. "Apa kau takut?" tanya
saya. "Tentu saja," jawabnya, "tetapi itulah yang membuatku
selamat." Sekali lagi, karena sadar akan bahaya, ia berhasil
menyeberang dengan selamat.
Sering kali dalam hidup ini kita dihadapkan pada banyak bahaya moral.
Kita sebaiknya selalu berpikir bahwa sewaktu-waktu kita bisa jatuh.
"Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah
supaya ia jangan jatuh" (1 Korintus 10:12). Dalam berbagai kesempatan
dan keadaan, siapa pun dari kita dapat jatuh dalam dosa apa pun.
Sungguh bodoh bila kita berpikir takkan pernah jatuh.
Kita harus berjaga-jaga, berdoa, dan mempersenjatai diri di setiap
kesempatan, yakni dengan percaya sepenuhnya kepada Allah (Efesus
6:13). "Sebab Allah setia" (1 Korintus 10:13), dan Dia akan memberi
kita kekuatan agar tidak jatuh --David Roper
ALLAH SUDAH MENYEDIAKAN SENJATA
KITA TINGGAL MENGAMBIL DAN MENGENAKANNYA.
|