Bacaan : Efesus 5:1-7
Rasa terima kasih yang tulus seringkali lebih nyata bila
berupa tindakan daripada kata-kata. Rasa terima kasih mendorong
kita untuk memberikan sesuatu sebagai balas jasa atas apa yang
telah kita terima. Bukan pelunasan utang, tetapi ungkapan rasa
terima kasih.
Orang-orang Chagga di Kilimanjaro, mempunyai kebiasaan yang
mencerminkan kebenaran ini. Penginjil Mildred Tengbom dan suaminya hidup di sana. Suatu hari saat mengendarai mobil untuk pulang, Tengbom melihat seorang lelaki berjalan dengan susah payah.
Lelaki itu sedang sakit dan baru pulang dari klinik. Dengan tulus
Tengbom mengantarkan lelaki itu pulang. Beberapa hari kemudian,
lelaki itu mengetuk pintu rumah Tengbom. Ketika istri Tengbom
membuka pintu, ia melihat seorang gadis yang membawa setandan
pisang di belakang lelaki itu. Rupanya ia datang untuk mengucapkan "terima kasih" dengan membawa pisang itu.
Kristus mengasihi kita dan memberikan diri-Nya bagi kita
(Efesus 5:2). Karena pengurbanan-Nya, kita beroleh pengampunan
dan segala berkat rohani yang merupakan hak orang-orang percaya.
Melalui doa, kita berterima kasih kepada-Nya dengan bibir. Namun
yang lebih berarti adalah mengungkapkannya melalui tindakan. Ya,
dalam berterima kasih kita sering merasa harus memberikan sesuatu. Karena itu, perhatikanlah seruan Paulus untuk menjauhi perzinahan, hidup cemar, iri hati, kebodohan, dan kata-kata kotor;
sebaliknya, "ucapkanlah syukur"(Efesus 5: 3,4). Untuk mengungkapkan rasa terima kasih atas keselamatan yang Allah berikan, kita
harus berserah kepada bimbingan Roh Kudus, bukan kepada kehendak
diri sendiri yang berdosa. Itulah artinya hidup penuh rasa terima
kasih--DJD
Just a "cup of cold water" was given in His name,
But the soul of the giver was never the same!
For he found that when giving was done with a zest,
Both the heart of the giver and taker were blest. --Anon
HATI YANG PENUH RASA TERIMA KASIH ADALAH
SUMBER SEGALA BERKAT
|