Bacaan : Yohanes 17:1-5
Suami saya, Bill, meninggal karena kanker pada tahun 1982.
Ia baru berusia 48 tahun saat itu dan masih bersemangat dalam
melayani Tuhan. Banyak orang bertanya, "Mengapa Bill dipanggil
semuda itu, saat ia sedang mengerjakan banyak hal untuk Tuhan?"
Selama bertahun-tahun saya tidak berhasil menemukan jawaban
yang jelas dan pasti. Namun ketika saya merenungkan akan kehidupan dan kematian Kristus, saya mendapati sebuah cara pandang yang
menolong. Sebelum meninggal pada usia tiga puluhan, Yesus berdoa
kepada Bapa-Nya, "Aku telah...menyelesaikan pekerjaan yang Engkau
berikan kepada-Ku untuk melakukannya" (Yohanes 17:4).
Filosof William James berkata bahwa nilai kehidupan tidak
diukur berdasarkan lamanya kita hidup, melainkan berdasarkan
sumbangsih kita selama hidup. Seandainya peristiwa salib itu
tidak perlu ada, sebenarnya Yesus dapat terus melakukan berbagai
mukjizat jika Dia hidup lebih lama. Namun semua mukjizat itu
tidak akan menambah apa pun pada pemberian-Nya yang teragung,
yakni kehidupan dan kematian-Nya, yang memberi kita keselamatan
kekal. Pekerjaan yang telah Dia selesaikan masih terus menghasilkan buah, melalui Roh-Nya.
Paul Powell menulis, "Kita harus mengingat bahwa hasil panen
tidak selalu dapat dituai semasa seseorang hidup di dalam dunia."
Karya Allah melalui kehidupan kita akan terus menghasilkan buah
meski kita sudah tiada.
Itulah yang menghiburkan sekaligus menantang kita. Tak
peduli berapa lama kita hidup, kita memiliki kesempatan untuk
memberi sumbangsih yang abadi --JEY
Our life of service to the Lord
Bears fruit long after we are gone;
So even if our life\'s cut short,
Our work for Christ will carry on. --Sper
ANDA TIDAK MEMBUTUHKAN UMUR PANJANG
UNTUK MENJALANI KEHIDUPAN YANG BENAR
|