Bacaan : Bilangan 22:21-35
Dengan mengendarai keledai, Pendeta Gumercindo mengunjungi
desa demi desa di Brazil untuk mengabarkan Injil. Menurut penulis
Don Hare, dalam suatu perjalanan pulang, sang penginjil begitu
kelelahan sampai tertidur di atas pelana. Beberapa jam kemudian,
ia terbangun karena guncangan yang keras. Ternyata keledainya
telah meninggalkan jalan setapak dan sedang berjalan melalui
medan yang berbatu-batu. Mulanya pendeta tersebut marah, namun ia
kembali tenang ketika melihat bahwa mereka telah hampir tiba di
desanya.
Ketika tiba di gerejanya, pendeta itu melihat teman-temannya
sedang berkumpul untuk mendoakan keselamatannya. Mereka diberitahu bahwa seorang pemilik peternakan besar yang membenci Injil
telah mengirim orang-orang untuk menyerang pendeta itu di tikungan jalan setapak yang biasa ia lalui. Maka mereka bersyukur
kepada Allah yang telah membuat keledai itu mengambil jalan
pintas untuk pulang.
Berabad-abad yang lalu, Allah memakai seekor keledai yang
lain. Keledai ini secara ajaib berbicara dan menyelamatkan nyawa
Bileam, seorang nabi yang tidak taat dan mata duitan (Bilangan
22:21-35). Allah berhasil menarik perhatian Bileam, sehingga ia
kemudian menyampaikan pesan Tuhan kepada orang Moab.
Allah memperhatikan kita dan akan melaksanakan rencana-Nya
yang baik bagi kita, bahkan jika perlu dengan perantaraan binatang dan orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Pernahkah Allah
berbicara atau memperhatikan Anda melalui keadaan-keadaan yang
tidak biasanya? Bagaimana caranya? Apa yang membuat Anda memuji
Dia atas perlindungan dan pimpinan-Nya? --HVL
My times are in my Father\'s hand;
How could I wish or ask for more?
For He who has my pathway planned
Will guide me till my journey\'s o\'er. --Fraser
KARENA ALLAH BESERTA KITA
KITA TIDAK PERLU TAKUT AKAN APA YANG ADA DI DEPAN KITA
|