Bacaan : Kejadian 50:15-21
Ada ungkapan negatif yang berkata, "Pembalasan harus lebih kejam dari
perbuatan jahat seseorang." Maksudnya orang akan merasa puas ketika
berhasil membalas dendam pada orang yang pernah berbuat salah
kepadanya. Menurut Anda, bolehkah kita membalas dendam?
Mari amati pengalaman Yusuf. Dari segi kepentingan, Yusuf "paling
pantas untuk membalas". Tanpa berbuat salah, ia dijual demi kepuasan
hati kakak-kakak yang iri kepadanya. Ia harus berpisah dari bapa yang
sangat dikasihinya. Dari seorang anak yang sangat dilindungi, secepat
kilat ia harus menyesuaikan diri untuk bekerja keras menaati
peraturan bagi budak. Yusuf mengalami semua itu di Mesir.
Kini, kakak-kakaknya sudah tak memiliki "tempat berlindung". Ayah
mereka telah meninggal. Dalam ketakutan, mereka memohon agar Yusuf
sudi mengampuni. Bahkan demi pengampunan itu, mereka siap menjadi
budak Yusuf (ayat 18)! Tetapi jawab Yusuf, "... aku inikah pengganti
Allah?" (ayat 19).
Sebenarnya, itulah saat paling mudah bagi Yusuf untuk membalas
dendam. Namun, Yusuf mengerti, pembalasan adalah hak Tuhan -- bukan
haknya. Maka, ia tidak membalas kejahatan saudara-saudaranya itu.
Sebaliknya, ia justru mengingatkan mereka bahwa semuanya itu ada
dalam rencana Tuhan yang indah (ayat 20)!
Bagaimana pandangan kita tentang "pembalasan"? Belajar dari Yusuf,
kita disadarkan bahwa kita tidak layak mengambil alih hak Tuhan.
Bagian yang harus kita kerjakan adalah menyatakan pengampunan bagi
sesama. Selebihnya adalah bagian Tuhan. Biarlah melalui pengampunan
yang tulus, kita menyatakan kebaikan Tuhan terhadap orang yang telah
berbuat salah kepada kita --HA
LAKUKAN TUGAS UNTUK MENGAMPUNI, JANGAN MEMBALAS
SEBAB MANUSIA TIDAK LAYAK UNTUK MENJADI PENGGANTI ALLAH
|