Bacaan : Ibrani 10:1-18
Misalkan Anda memasuki Bait Allah dalam Perjanjian Lama, Anda akan
mendapati suatu perabot yang tidak tersedia di sana. Apakah itu?
Kursi! Tidak ada kursi di dalam Bait Allah. Setiap imam besar yang
melayani di Bait Allah tidak berkesempatan untuk duduk. Mereka selalu
aktif, setiap hari melayani, setiap hari mempersembahkan korban.
Ketika seorang imam selesai bertugas, imam yang lain melanjutkan
pelayanannya. Mereka harus melakukannya berulang-ulang karena korban
yang mereka persembahkan tidak benar-benar efektif dalam menghapuskan
dosa umat Allah.
Betapa berbeda dengan Imam Besar Perjanjian Baru! Penulis kitab
Ibrani mengemukakan fakta yang sangat mengejutkan, khususnya bagi
orang Yahudi yang terbiasa dengan pelayanan ala Bait Allah tadi. Kita
tidak lagi menemukan imam besar yang berdiri melayani. Sebaliknya,
kita mendapati Imam Besar yang duduk untuk selama-lamanya (ayat 12).
Duduk melambangkan kondisi beristirahat; berhenti dari suatu
pekerjaan. Tidak seperti imam Perjanjian Lama, Kristus sudah selesai
bertugas. Dia mempersembahkan kurban hanya satu kali, sebuah kurban
yang sempurna, kurban yang menghapuskan dosa untuk selama-lamanya.
Dia telah meraih kemenangan yang menentukan atas dosa, dan sekarang
Dia duduk bersama dengan Bapa-Nya, menyaksikan hasil kemenangan-Nya.
Jika Anda menerima Yesus sebagai Imam Besar, bukankah itu alasan yang
sangat kokoh untuk bersukacita? Tidak ada lagi yang dapat kita
lakukan untuk menambahi atau mengurangi kesempurnaan kurban-Nya. Kita
hanya perlu bersyukur dan turut merayakan kemenangan-Nya --ARS
KITA MENGHADAPI DOSA BUKAN LAGI
DENGAN BERGUMUL MELAWANNYA
MELAINKAN DENGAN MENERIMA DAN MERAYAKAN
KEMENANGAN KRISTUS
|