Bacaan : Amsal 23:20,21; 24:1,2
Ada sebuah kelakar mengenai orang Indonesia dan Singapura. Katanya,
orang Indonesia yang tadinya suka buang sampah sembarangan dan kurang
tertib berlalu lintas akan menjadi tertib dan buang sampah di
tempatnya ketika hidup di Singapura. Sebaliknya, orang Singapura akan
berubah menjadi suka buang sampah sembarangan dan tidak tertib ketika
tinggal di Indonesia. Entah benar atau tidak hal ini dan juga bukan
bermaksud menjelekkan bangsa kita, tetapi kelakar ini menggambarkan
bahwa pengaruh sebuah lingkungan begitu kuat. Ketika lingkungan
tempat kita tinggal baik, kita akan berperilaku baik. Namun jika
buruk, kita akan berperilaku buruk pula.
Penulis Amsal mengingatkan kita akan hal ini. Jangan bergaul dengan
para pemabuk dan penjahat. Mengapa? Bukan hanya karena pemabuk akan
menghasilkan kemiskinan dan penjahat akan menghasilkan perbuatan
jahat, melainkan juga karena pengaruhnya yang akan berdampak kepada
kita. Coba bayangkan jika kita terus bergaul dengan orang-orang yang
selalu mengatakan bahwa anggur itu enak dan mabuk itu dapat
menghilangkan masalah, apa yang akan ada dalam pikiran kita? Atau,
jika kita selalu bergaul dengan orang-orang yang hanya memikirkan dan
melakukan perbuatan jahat, apa yang terjadi dengan hidup kita? Tanpa
disadari, kita pun akan berpikir dan berperilaku seperti mereka.
Lingkungan yang buruk akan selalu ada di sekitar kita. Sekarang,
tergantung kepada kita untuk memilihnya. Apakah mau bergaul di tengah
lingkungan buruk atau tidak. Jika pada kenyataannya kita sulit untuk
menghindar, kitalah yang harus menciptakan lingkungan yang baik.
Minimal dalam keluarga kita sendiri --RY
JADIKANLAH KELUARGA KITA SEBAGAI LINGKUNGAN YANG BAIK
|