Bacaan : 2Samuel 17:27-29
Maggie Hamilton, seorang murid Sekolah Dasar di Michigan, Amerika
Serikat, menulis surat ini: "Hai, semoga keluarga dan teman-temanmu
baik-baik saja. Di gereja, saya berdoa untukmu dan negaramu. Di
sekolah, kami mengumpulkan dana untuk negaramu. Maka, kami membuat
gelang tsunami. Saya membuat satu untukmu. Semoga kamu menyukainya.
Saya akan terus berdoa untukmu dan negaramu di gereja."
Dan, Nada Lutfiyyah, anak sebatang kara yang kehilangan orangtua,
kakak, dan adiknya dalam peristiwa tsunami di Aceh, membalas surat
itu, "Sahabatku, namaku Nada Lutfiyyah. Saya sangat senang dan
terharu menerima suratmu. Saya kehilangan seluruh keluarga saya dan
sekarang tinggal bersama sepupu saya. Saya senang atas perhatianmu.
Semoga saya segera menerima gelang pemberianmu karena saya ingin
mengenakannya di tangan ini untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa
saya sekarang memiliki seorang sahabat."
Dua sahabat itu bertemu di Istana Negara pada perayaan HUT
kemerdekaan Indonesia ke-63, atas undangan Presiden SBY.
Maggie dan Nada mengajarkan satu hal, bahwa persahabatan melewati
batas-batas jarak, suku, status, warna kulit, dan agama. Kuncinya
adalah ketulusan untuk saling memberi serta keterbukaan untuk saling
menerima. Hal serupa kita baca dalam 2 Samuel 17:27-29. Daud tengah
terlunta-lunta karena melarikan diri dari Absalom, anaknya yang
memberontak. Saat pasukannya kelelahan, beberapa orang dari bangsa
lain; Sobi bin Nahas, Makhir bin Amiel, dan Barzilai, mengulurkan
tangan memberi bantuan. Alangkah baiknya jika kita pun memiliki
semangat persahabatan seperti itu --AYA
KETULUSAN DAN KETERBUKAAN
ADALAH KUNCI PERSAHABATAN
|