Bacaan : Yunus 3
Sebagian orang kristiani memiliki pengkhotbah favorit. Atau,
tema-tema khotbah favorit. Tema khotbah macam apa yang kita sukai?
Panjang atau pendek? Lucu atau serius? Khotbah yang mendatangkan
teguran keras atau khotbah yang menyejukkan hati? Tentu bukan dosa
jika kita memiliki tema-tema khotbah favorit. Namun, yang perlu kita
ingat adalah bahwa bukan khotbah-khotbah itu yang utama dan penting,
melainkan respons kita pada khotbah yang disampaikan. Sebagus apa pun
sebuah khotbah, tak akan ada maknanya jika kita tidak berespons.
Ketika diutus ke Niniwe, sebenarnya Yunus juga menyampaikan "khotbah"
yang sederhana dan pendek. Tidak memakai kata-kata yang indah dan
panjang. Hanya menyampaikan berita penghukuman Tuhan bagi bangsa
Niniwe (ayat 4). Niniwe bisa saja tidak mendengar "khotbah" Yunus.
Mereka tidak kenal Yunus. Atau, bisa saja mereka marah dan memaki
Yunus karena bersikap tidak sopan -- tak ada angin tak ada badai,
tiba-tiba menyampaikan berita penghukuman. Namun, bangsa Niniwe
merespons khotbah Yunus dengan penyesalan dan pertobatan. Raja
mengumumkan hari berkabung dengan melakukan puasa massal bagi seluruh
negeri sebagai tanda penyesalan (ayat 7). Dan, respons tersebut
diterima dengan baik oleh Allah.
Sebagian gereja mencantumkan pujian respons, doa respons, atau saat
teduh setelah khotbah dalam tata ibadahnya. Hal tersebut dibuat bukan
sekadar "pemanis" tanpa makna, melainkan sebagai pengingat bahwa
setiap firman Allah yang diberitakan harus kita respons dengan baik.
Bersyukurlah jika firman-Nya memberi kekuatan baru. Bertobatlah jika
firman-Nya menegur kita dengan keras --RY
KHOTBAH BUKAN UNTUK DIDENGAR DAN DILUPAKAN
MELAINKAN UNTUK DIRESPONS DAN DITERAPKAN
|