Situs ini dibuat oleh YLSA (Yayasan Lembaga SABDA)
Utama | Alkitab | Referensi | Publikasi | Komunitas | Pendidikan
Utama > Publikasi > e-Renungan Harian > KHOTBAH FAVORIT
< Februari
2010
>
M S S R K J S
  1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28            


Cari di Arsip e-Renungan Harian Cari di e-RH
Lihat Arsip e-Renungan Harian Arsip
Berlangganan / Subscribe e-Renungan Harian Berlangganan
In-CHRIST.net (Indonesian Christian Network) Situs Renungan Harian

Sabtu, 6 Februari 2010

Bacaan Setahun : Keluaran 39-40; Matius 23:23-39
Nats : Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri (Yakobus 1:22)

KHOTBAH FAVORIT

Bacaan : Yunus 3

Sebagian orang kristiani memiliki pengkhotbah favorit. Atau, tema-tema khotbah favorit. Tema khotbah macam apa yang kita sukai? Panjang atau pendek? Lucu atau serius? Khotbah yang mendatangkan teguran keras atau khotbah yang menyejukkan hati? Tentu bukan dosa jika kita memiliki tema-tema khotbah favorit. Namun, yang perlu kita ingat adalah bahwa bukan khotbah-khotbah itu yang utama dan penting, melainkan respons kita pada khotbah yang disampaikan. Sebagus apa pun sebuah khotbah, tak akan ada maknanya jika kita tidak berespons.

Ketika diutus ke Niniwe, sebenarnya Yunus juga menyampaikan "khotbah" yang sederhana dan pendek. Tidak memakai kata-kata yang indah dan panjang. Hanya menyampaikan berita penghukuman Tuhan bagi bangsa Niniwe (ayat 4). Niniwe bisa saja tidak mendengar "khotbah" Yunus. Mereka tidak kenal Yunus. Atau, bisa saja mereka marah dan memaki Yunus karena bersikap tidak sopan -- tak ada angin tak ada badai, tiba-tiba menyampaikan berita penghukuman. Namun, bangsa Niniwe merespons khotbah Yunus dengan penyesalan dan pertobatan. Raja mengumumkan hari berkabung dengan melakukan puasa massal bagi seluruh negeri sebagai tanda penyesalan (ayat 7). Dan, respons tersebut diterima dengan baik oleh Allah.

Sebagian gereja mencantumkan pujian respons, doa respons, atau saat teduh setelah khotbah dalam tata ibadahnya. Hal tersebut dibuat bukan sekadar "pemanis" tanpa makna, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap firman Allah yang diberitakan harus kita respons dengan baik. Bersyukurlah jika firman-Nya memberi kekuatan baru. Bertobatlah jika firman-Nya menegur kita dengan keras --RY

KHOTBAH BUKAN UNTUK DIDENGAR DAN DILUPAKAN

MELAINKAN UNTUK DIRESPONS DAN DITERAPKAN
Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini  


Laporan Masalah/Saran