Bacaan : Kisah Para Rasul 13:42-52
Iri hati adalah rasa benci yang timbul karena melihat
kelebihan, harta milik, atau posisi orang lain, dan adanya
keinginan untuk memiliki semuanya itu bagi diri sendiri. Rahel
iri terhadap Lea karena Lea melahirkan anak (Kejadian 30:1).
Saudara-saudara Yusuf iri terhadap Yusuf karena ayah mereka lebih
mengasihi Yusuf (Kejadian 37:11). Dan, dari bacaan Alkitab hari
ini, orang Yahudi membantah apa yang dikatakan Paulus karena
alasan yang sama--iri hati (Kisah Para Rasul 13:45).
Segala keberuntungan yang dimiliki orang lain, misalnya
kecerdasan, penampilan menarik, popularitas, pekerjaan yang baik,
bahkan kedewasaan wawasan rohani, dapat memicu timbulnya iri
hati. Bahkan orang Kristen yang paling saleh sekalipun tidak
kebal terhadap godaan iri hati.
Ketika F.B. Meyer mengadakan pertemuan di Northfield,
Massachusetts, banyak orang datang untuk mendengarkan khotbahnya
yang menggemparkan. Namun, saat pengkhotbah Inggris yang
termasyhur, G. Campbell Morgan, datang ke Northfield, segera pula
orang berkerumun mendengarkannya memaparkan Kitab Suci. Meyer pun
merasa iri karenanya. Ia berkata, "Satu-satunya cara membuang iri
hati saya adalah dengan mendoakan Morgan setiap hari!"
Untuk mengenyahkan perasaan iri, kita harus mengenali
perasaan itu dan mengakuinya di hadapan Allah. Jika perasaan itu
belum juga sirna, kita harus mulai mendoakan orang itu. Kita
dapat dikatakan berhasil membasmi iri hati itu bila kita sudah
mulai dapat bersukacita atas hal-hal baik yang dimiliki orang
lain, bila sukacita itu lebih besar daripada keinginan untuk
memilikinya bagi diri sendiri --DJD
HATI YANG PENUH KASIH TIDAK MEMPUNYAI TEMPAT UNTUK IRI HATI
|