Bacaan : 1Korintus 11:23-34
Seorang pria yang belum mengenal Allah dirawat di rumah
sakit dan didiagnosa menderita kanker yang sudah tidak dapat
ditolong dengan operasi. Untuk mencari kedamaian, ia meminta
seorang pendeta mengunjunginya. Namun, pendeta yang menjenguknya
berkata bahwa tak seorang pun tahu apa yang dapat diharapkan
setelah kematian. Sebelum pergi, pendeta itu melayankan Perjamuan
Kudus baginya, tetapi pria itu tetap gelisah. Malam itu ia
berbicara dengan seorang perawat yang kemudian membimbingnya
untuk mempercayai Yesus sebagai Juruselamat. Selanjutnya, saya
mengunjunginya secara rutin, dan saya dapat bersaksi bahwa
akhirnya ia meninggal dalam damai sejahtera.
Perjamuan Tuhan hanya bermakna dalam bila kita melakukannya
dengan iman yang tulus kepada Kristus. Dalam 1Korintus 11, Paulus
mengingatkan kita agar tidak melupakan makna dari roti dan anggur
perjamuan. Jika kita meremehkan atau menganggapnya sebagai
sekadar acara ritual yang hambar, berarti kita mengikuti
perjamuan itu "dengan cara yang tidak layak" dan kita berdosa
terhadap "tubuh dan darah Tuhan" (ayat 27).
Kita harus ingat bahwa Yesus mati agar kita menerima
pengampunan, maka kita harus menjalankan Perjamuan Kudus dengan
iman dan penuh penghayatan. Dengan demikian, perjamuan itu akan
menuntun kita untuk bersungguh-sungguh dalam berefleksi, mengaku
dosa, dan berkomitmen kembali kepada Tuhan. Dan, kita dapat
kembali bersyukur atas segala hal yang telah Tuhan lakukan bagi
kita.
Setiap kali kita mengikuti Perjamuan Kudus, marilah kita
menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan hormat --HVL
DENGAN MENGINGAT BAHWA YESUS TELAH MATI BAGI KITA
KITA PUN AKAN INGAT UNTUK MEMPERSEMBAHKAN HIDUP BAGI-NYA
|