Bacaan : Mazmur 148
Dengan pakaian hangat saya berjalan lewat jalan setapak yang
sudah saya hafal, menembus kegelapan dini hari menuju suatu
tempat yang sunyi di hutan sebelah utara Michigan. Saya berhenti
di bawah pohon pinus putih setinggi 18 meter, merasakan
kenyamanannya, dan menyatu dengan kesunyian hutan. Tatkala hari
mulai terang, berbagai objek mulai tampak bermunculan dari
kegelapan. Sedikit demi sedikit fajar menyingsing, dan bersamanya
penghuni hutan ikut terbangun.
Di sana-sini, burung-burung berkicauan. Sekawanan angsa
terbang rendah di cakrawala, mengisi langit dengan keriuhan
suaranya. Seekor kijang dan anak-anaknya bergerak tanpa suara di
sela pepohonan pinus. Seekor tupai merah menatap saya sambil
mengibas-ngibaskan ekornya.
Bila saya menikmati pemandangan indah ciptaan Allah ini,
bagaimana saya dapat menahan diri untuk tidak memuji-Nya? Memang
saya memuji-Nya dengan suara perlahan, tetapi sesungguhnya hati
saya bersorak memuji nama-Nya sehingga semua malaikat dapat
mendengarnya. Akan tetapi bila dibandingkan dengan pepohonan
raksasa, dan pohon-pohon pakis yang rindang itu, pujian saya
tampak sangat kecil artinya. Apalah arti kata-kata saya bila
dibandingkan dengan pesona menakjubkan dari burung pipit berleher
hitam yang berjambul dan kelinci-kelinci yang melompat dengan
tangkas?
Penulis Mazmur 148 memahami bahwa alam semesta dan isinya
mencerminkan kekuasaan dan kebesaran sang Pencipta. Pada hari
yang dingin di musim gugur itu saya mendapatkan anugerah istimewa
untuk boleh bergabung dengan ciptaan lain dalam memuliakan Allah
menjelang fajar menyingsing --DCE
SEGALA CIPTAAN YANG MENAKJUBKAN
MENUNJUK KEPADA PENCIPTA KITA YANG MENAKJUBKAN
|