Bacaan : Yakobus 3:1-12
Waktu itu Bernard Baruch adalah seorang pengusaha muda yang
ambisius. Ia mengajak seorang konglomerat bernama J P. Morgan
untuk bekerjasama dalam usaha pertambangan belerang di Texas.
Para ahli geologi melaporkan bahwa proyek tersebut akan
menguntungkan, meski dengan beberapa risiko. Morgan sangat
tertarik, sampai tiba-tiba Baruch berkata, "Anda pasti pernah
berjudi dengan taruhan yang lebih besar dari semua risiko ini."
Morgan menatapnya tajam, kemudian menjawab dengan nada
dingin, "Saya tidak pernah berjudi." Kata berjudi itu telah
menggagalkan perjanjian kerjasama tersebut. Morgan beranggapan
bahwa menanam modal merupakan hal yang terhormat, sedangkan
berjudi itu suatu dosa.
Jika satu kata, yang terucap spontan dapat menimbulkan
kerugian miliaran rupiah, renungkanlah kerugian yang dapat
ditimbulkan oleh kata-kata pedas. Kata-kata semacam itu dapat
menghancurkan reputasi seseorang dan merusak hubungan yang paling
dekat sekalipun.
Karena itu, tidaklah berlebihan bila Yakobus memperingatkan
kita tentang kekuatan lidah. Ia mengatakan bahwa lebih mudah
mengekang seekor kuda, mengendalikan sebuah kapal yang besar, dan
menjinakkan segala jenis binatang seperti burung, binatang
melata, dan binatang-binatang laut, daripada mengendalikan lidah
(3:3-8). Ia menyebut lidah sebagai "api" yang dinyalakan oleh api
neraka sendiri (ayat 6), dan "sesuatu yang buas, yang tak
terkuasai, dan penuh racun yang mematikan" (ayat 8).
Alangkah bijaksana bila setiap hari kita berdoa, "Awasilah
mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku" (Mazmur 141:3)
--HWR
Lord, set a watch upon my lips,
My tongue control today;
Help me evaluate each thought
And guard each word I say. --Hess
BERBICARA TANPA BERPIKIR BAGAIKAN MENEMBAK TANPA SASARAN
|