Bacaan : 2Korintus 4:7-18
Juara tenis Hana Mandlikova pernah ditanya tentang bagaimana
rasanya mengalahkan pemain-pemain besar seperti Martina
Navratilova dan Chris Evert Lloyd. Ia menjawab, "Dalam setiap
kemenangan besar saya merasakan bahwa segala jerih lelah,
latihan, dan perjalanan yang telah dilalui tidaklah sia-sia.
Rasanya seperti menggenggam dunia." Ketika saya tanya berapa lama
perasaan itu berlangsung, ia menyahut, "Kira-kira 2 menit."
Alkitab menyatakan bahwa kemasyhuran dan keberuntungan hanya
bersifat sementara. Dalam Kitab Pengkhotbah, Salomo mengungkapkan
daftar keberhasilan yang sifatnya hanya sementara (Pengkhotbah
6). Yesaya mengibaratkan hidup manusia seperti bunga yang cepat
layu dan mati (Yesaya 40:6-8). Lalu, Rasul Yohanes juga
mengatakan bahwa "dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya,
tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup
selama-lamanya (1Yohanes 2:17).
Demikianlah sikap Paulus dalam bacaan Alkitab hari ini. Ia
mengetahui pedihnya penderitaan pribadi yang harus ditanggung
untuk menggapai kemenangan besar. Perbedaan antara Paulus dan
seorang atlet adalah tujuannya. Paulus berjuang untuk memperoleh
kesukaan yang lebih dari 2 menit; yakni "kemuliaan kekal yang
melebihi segala-galanya" (2Korintus 4:17).
Kemenangan besar menghasilkan hadiah-hadiah duniawi. Namun
kita harus berusaha menggapai suatu kemenangan yang lebih
penting, yaitu perkenan kekal Bapa kita di surga (Filipus
3:7-14). Itulah kemenangan yang terbesar --MRDII
What comes from man will never last,
It\'s here today, tomorrow past;
What comes from God will always be
The same for all eternity! --Spencer
ORANG YANG BIJAKSANA AKAN MENYELARASKAN TUJUAN-TUJUAN DUNIAWINYA
DENGAN ANUGERAH SURGAWI
|