Bacaan : 1Korintus 7:25-40
Sebuah cerita humor. Seorang gadis lajang berdoa begini: "Ya Tuhan,
kalau memang ia jodohku, dekatkanlah. Kalau bukan jodohku,
jodohkanlah. Kalau ia bukan jodohku, jangan sampai ia dapat jodoh
yang lain, selain aku. Amin."
Status melajang kerap kali dianggap menyusahkan atau bahkan dirasa
sebagai aib bagi yang menyandangnya. Perasaan itu muncul biasanya
karena si lajang mendengarkan perkataan orang lain. Padahal
sebetulnya yang penting bukan statusnya, tetapi sikap dalam
menghadapinya. Jika disikapi secara positif, maka sisi-sisi
positifnya akan tampak. Bukankah orang yang melajang punya waktu
luang dan konsentrasi lebih besar untuk berkarya? Melajang juga bukan
berarti hidup sendiri, karena orang yang melajang justru punya
kesempatan lebih banyak untuk membangun relasi dengan orang lain.
Mempunyai pasangan hidup atau menikah, tak serta merta membuat
segalanya menjadi lebih baik. Paulus malah mengingatkan akan "harga"
yang harus dibayar dalam hidup berpasangan (ayat 33-34). Intinya
kalaupun berpasangan, janganlah sampai kita terbelenggu perkara
duniawi. Jangan sampai riak-riak pernikahan malah menjadi batu
sandungan bagi orang lain.
Jadi baik sendiri ataupun berpasangan, tanggung jawab kita di hadapan
Tuhan tetap sama; berkarya memuliakan nama-Nya. Bila menikah,
bijaklah membina keluarga. Bila hidup lajang, bajiklah membawa diri.
Bagi lajang yang sangat ingin menikah, ingatlah bahwa hidup kita ada
di tangan-Nya. Jalani apa pun hidup Anda dengan rasa syukur.
Percayakanlah hidup Anda pada rencana dan kebijaksanaan-Nya. Tuhan
tahu yang terbaik -DYA
MELAJANG MAUPUN MENIKAH
KITA SAMA-SAMA MESTI MEMULIAKAN NAMA-NYA!
|