Bacaan : Lukas 16:19-31
Ada sebuah karikatur bergambar dua batu nisan bersebelahan. Nisan
yang satu bertuliskan, "Di sini terbaring jenazah Peter yang
meninggal karena terlalu banyak makan gandum". Sedangkan nisan yang
lain bertuliskan, "Di sini terbaring jenazah Akharia yang meninggal
karena gandum Peter tidak pernah singgah di sini". Sebuah sindiran
yang sangat mengena bagi kita.
"Jauh di mata, dekat di hati" merupakan ungkapan yang indah tentang
kedekatan batin-kedekatan batin yang terjalin meski tak berjumpa
secara fisik. Namun, atas perumpamaan Tuhan yang satu ini berlaku
prinsip yang sebaliknya, yakni "dekat di mata, jauh di hati". Betapa
dekatnya Lazarus tinggal dengan si orang kaya. Hanya "... dekat pintu
rumah orang kaya itu" (ayat 20). Begitu dekatnya ia untuk disapa,
diperhatikan, dan ditolong. Namun, Lazarus malah mati mengenaskan
dalam kemiskinan. Sangat kontras jika dibandingkan dengan kemakmuran
"si tetangga". Mengapa? Semua tahu jawabnya. Persis seperti karikatur
di atas.
Sebenarnya banyak penderitaan di dunia ini tak perlu terjadi, jika
orang-orang terdekat dari orang yang menderita mau berbuat sesuatu.
Tuhan mengizinkan kedekatan fisik terjadi agar kita tergerak berbagi
kasih dengan mereka. Dengan anak yang perlu diperhatikan dan tetangga
yang sakit; dengan nenek yang duduk sendirian di sebelah kita waktu
di gereja dan Bi Inem yang ayahnya (di desa) sakit keras; dengan Pak
Pos yang rutin mengantar surat ke rumah kita dan Pak Jo yang setia
mengangkut sampah dari rumah kita. Dan banyak lagi. Ya, mereka ada
"dekat di mata" justru agar tersedia tempat di hati kita bagi mereka
-PAD
SEGALA YANG KITA DAPAT DARI TUHAN
LAYAK KITA BAGIKAN KEPADA SESAMA YANG MEMBUTUHKAN
|