Bacaan : 1Korintus 9:19-23
Kue bulan atau tong jiu pia adalah makanan khas orang Cina, yang
biasanya ada untuk merayakan festival bulan purnama. Saya memiliki
suatu kenangan mengesankan dengan kue ini ketika sedang belajar di
Cina. Menjelang festival bulan purnama, sepasang suami istri dari
gereja lokal tempat saya beribadah mengundang kami, para mahasiswa
asing, untuk datang ke rumah mereka dan makan kue bulan bersama.
Beberapa rekan yang memiliki keyakinan berbeda pun ikut datang.
Ternyata suami istri tersebut memakai kesempatan festival bulan
purnama untuk menceritakan betapa besar kasih Tuhan dalam hidup
mereka. Mereka menjadikan kue bulan sebagai sarana untuk menceritakan
Injil.
Tak semua tradisi warisan budaya nenek moyang itu buruk. Memang ada
tradisi yang bertentangan dengan firman Tuhan, dan bisa menghambat
pertumbuhan rohani kita, karenanya harus kita tolak. Akan tetapi ada
juga tradisi yang bersifat "netral", yang bahkan bisa kita gunakan
untuk menjadi sarana pemberitaan Injil yang efektif. Paulus, dalam
pelayanannya, tidak mengabaikan tradisi yang dimiliki seseorang.
Dikatakan dalam surat Korintus, ia "menjadi seperti orang yang
dilayaninya" supaya bisa memenangkan sebanyak mungkin orang (ayat
19).
Saya belajar dari suami istri yang mengundang kami untuk makan kue
bulan itu. Mereka begitu rindu mewartakan kabar baik tentang kasih
Kristus, dan mereka menggunakan tradisi warisan budaya yang mereka
miliki untuk dipakai menjadi sarana penginjilan. Dan itu sangat
efektif. Walau tentu kue bulan itu hanya menjadi sarana, bukan yang
utama. Akhirnya yang menyentuh hati kami bukanlah kue bulan,
melainkan kasih Kristus dalam hati mereka -GS
PERNAK-PERNIK TRADISI BISA MENGUNDANG ORANG MASUK
TETAPI HANYA KASIH KRISTUS YANG MEMBUAT MEREKA BERTOBAT
|