Bacaan : Kisah Para Rasul 8:1-17
Panggal 7 Mei 2006, di Athena, seorang pemuda imigran yang telah
mengenal Kristus selama tiga tahun, dibaptis. Ia tinggal bersama
pamannya yang membenci kekristenan. Setiap malam ia membaca Alkitab
diam-diam. Suatu saat, rencana baptisan itu diketahui pamannya. Sang
paman marah besar. Saat si pemuda masih tidur, pamannya mendidihkan
sepanci air, menyiramkannya ke tubuh pemuda itu, lalu mengusirnya.
Namun pagi harinya dengan pinggang dan tangan melepuh, pemuda itu
tetap pergi ke gereja. Dengan tubuh penuh luka dan sakit, ia berlutut
di depan altar untuk menerima baptisan. "Kini saya milik Yesus!"
serunya.
Bagi banyak orang yang hidup pada zaman sekarang, baptisan mungkin
merupakan perkara biasa. Namun, tidak demikian bagi pemuda tadi atau
orang-orang pada zaman para rasul! Baptisan bisa jadi soal hidup
mati, sebab baptisan adalah inisiasi. Pada saat baptisan dilakukan,
orang menyatakan di depan Tuhan dan jemaat, bahwa ia beriman hanya
pada Kristus; bukan pada yang lain. Bagi pemimpin agama Yahudi
baptisan dianggap sebagai pemurtadan, sehingga pengikutnya pantas
dianiaya (ayat 1-3). Uniknya, walau tahu risikonya berat, banyak
orang yang tetap mau dibaptis (ayat 12). Mereka percaya bahwa kuasa
Yesus jauh lebih besar daripada kuasa penganiaya.
Baptisan itu berharga. Jangan disepelekan! Jika Anda belum dibaptis,
usahakan untuk menerimanya! Iman Anda harus dinyatakan dengan berani
di depan Allah dan manusia. Jika Anda sudah dibaptis, hadapilah
konsekuensinya. Baptisan adalah langkah awal untuk hidup berpusatkan
pada Yesus -JTI
KITA DISELAMATKAN KARENA IMAN, BUKAN KARENA BAPTISAN
NAMUN ORANG BERIMAN MEMBUTUHKAN BAPTISAN
|