Bacaan : Matius 5:43-48
Dalam "hukum" dunia, kata "mengasihi" dan "musuh" adalah dua kata
yang bertolak belakang, karenanya tidak dapat dipersatukan. Dalam
bahasa Inggris, musuh adalah enemy, berasal dari bahasa Latin
inimicus, artinya "bukan sahabat". Definisinya jelas: orang yang
membenci, menginginkan hal yang tidak baik, menyebabkan jatuh,
kecewa, sakit, dan sebagainya. Maka, nasihat untuk mengasihi musuh
bisa dibilang aneh. Sebab, normalnya musuh itu mesti dilawan,
dibenci, disingkirkan, kalau perlu dibasmi.
Akan tetapi, itulah yang dengan tegas dan jelas diajarkan Tuhan
Yesus: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah
bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Ajaran mengasihi
musuh tidak saja berdimensi teologis-berkenaan dengan aspek
imani-tetapi juga berdimensi praktis dan logis. Pertama, membenci
musuh akan merugikan diri sendiri; tidak ada orang yang hidupnya
bahagia kalau terus dikuasai kebencian terhadap orang lain. Kedua,
melawan kebencian dengan kebencian sama dengan melipatgandakan
kebencian. Seperti gelap yang tidak bisa dilawan dengan gelap, tetapi
harus dengan terang. Terang, walau hanya secercah, akan sanggup
menembus kegelapan.
Dengan memahami makna ajaran "mengasihi musuh", kita bisa melihat
luka tanpa dendam; kepahitan tanpa amarah; kekecewaan tanpa geram.
Kita memandangnya sebagai kesempatan untuk mengasihi orang lain;
untuk berbuat kebaikan. Seperti kata Alfred Plummer, "Membalas
kebaikan dengan kejahatan adalah tabiat Iblis; membalas kebaikan
dengan kebaikan adalah tabiat manusiawi; membalas kejahatan dengan
kebaikan adalah tabiat ilahi" -AYA
KEMENANGAN TERBESAR ADALAH
KETIKA KITA BERHASIL MENGASIHI LAWAN
|