Bacaan : Yohanes 8:1-11
Dalam buku Connecting, Larry Crabb menceritakan kisah berikut. Dalam
sebuah acara retret bagi kaum muda bermasalah, seorang gadis berdiri
untuk menuturkan pergumulannya. Dengan bibir bergetar dan air mata
meleleh membasahi pipi, ia mengaku, "Saya telah menjadi pelacur
selama tiga tahun terakhir ini. Saya sangat menyesal."
Saat gadis itu masih berdiri dengan gamang, ayahnya berjalan
menghampiri, lalu memeluknya dan berkata, "Saat aku melihatmu, aku
tidak melihat seorang pelacur di dalam dirimu. Kamu sudah dibasuh
oleh darah Kristus. Kini aku melihat putriku yang cantik."
Kisah ini bukan hanya kisah keluarga yang menyentuh, melainkan juga
memuat pelajaran yang patut diterapkan dalam kehidupan bergereja,
khususnya saat menyikapi anggota jemaat bermasalah. Bagaimana
tanggapan kita bila tahu ada saudara seiman yang jatuh ke dalam dosa?
Tak jarang kejadian itu malah menjadi ajang penghakiman dan bahan
gosip.
Tanggapan itu sangat ganjil kalau kita menyadari bahwa gereja adalah
keluarga Allah. Orang yang jatuh ke dalam dosa bukan penyakit yang
perlu disingkiri, melainkan saudara yang harus diperhatikan dan
ditolong. Seperti ayah gadis tadi, kita dapat belajar untuk tidak
berfokus pada kesalahan yang diperbuat, tetapi pada realitas kita
sebagai orang yang telah ditebus oleh Kristus dan pemulihan yang
tersedia di dalam anugerah-Nya. Sikap semacam ini mengandung daya
pemulihan yang manjur untuk membangkitkan kembali mereka yang jatuh.
Itulah yang dilakukan Yesus terhadap perempuan -ARS
KEMURAHAN TUHAN DIMAKSUDKAN
UNTUK MENUNTUN KITA KEPADA PERTOBATAN
|